Kader Inthilan

Dari WikiMu
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Inthilan berasal dari bahasa Jawa kinthil atau nginthil yang artinya mengekor atau mengikuti di belakang. Di lingkungan Muhammadiyah dikenal adanya istilah kader inthilan, yaitu kader yang tumbuh bersama dengan kegiatan seorang atau beberapa tokoh Muhammadiyah. Kader tersebut selalu diajak oleh tokoh itu, utamanya ketika berdakwah. Dengan demikian, diharapkan ia dapat melihat dan menyaksikan sendiri cara tokoh Muhammadiyah itu berdakwah atau bertabligh. Lama kelamaan ia menjadi semacam ajudan dan mulai magang sedikit demi sedikit menjadi kader. Pemahamannya tentang Muhammadiyah terbentuk secara pelan-pelan, sebab biasanya para tokoh Muhammadiyah sering menceritakan riwayat para tokoh pendahulu di Muhammadiyah.

Kisah unik dan kisah heroik yang dapat dijadikan contoh atau suri teladan satu per satu mengalir ke telinga kader inthilan. Dengan begitu, ia memperoleh pemahaman dan wawasan tentang Muhammadiyah secara langsung, termasuk tentang kecerdikan dan kecerdasan para tokoh pendahulu itu dalam memutuskan masalah dan mengambil sikap terhadap suatu persoalan. Biasanya, setelah dianggap cukup bekalnya sebagai kader, maka sang tokoh Muhammadiyah mulai mencoba kemampuan si kader. Mula-mula dicoba kemampuannya dalam menjadi imam shalat jamaah. Lalu, dalam kesempatan bertabligh ia langsung ditunjuk untuk menjadi mubaligh awal ketika mengisi pengajian, misalnya pada pengajian umum atau pengajian khusus.

Kemudian, ia dicoba untuk menjadi imam dan khatib pada saat shalat Jum'at. Setelah itu, dicoba untuk menjadi pembicara pengganti pada pengajian yang lebih besar. Selanjutnya, dicoba kemampuannya dalam menjalankan tugas menjadi imam dan khatib pada shalat Id. Setelah itu, ia dilepas mandiri menjadi kader mubaligh, sekaligus kader Muhammadiyah.

Banyak tokoh Muhammadiyah baik di pusat, wilayah atau daerah, cabang dan ranting yang pada awalnya adalah kader inthilan. Ia bisa saja merupakan saudara dari tokoh Muhammadiyah, atau muridnya, atau anak muda kader di organisasi otonom (ortom) yang diambil menjadi kader inthilan. Djazman Al-Kindi adalah contoh kader inthilan yang dulu sering diminta untuk menemai atau mengikuti Kyai Badawi kalau ada pertemuan dengan Bung Karno, sehingga ia bisa belajar banyak dari pertemuan orang-orang penting itu. [Im]