Tanwir

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

Anggaran Dasar Muhammadiyah (2005) Pasal 24 menyebutkan: (1) Tanwir ialah permusyawaratan dalam Muhammadiyah di bawah Muktamar, diselenggarakan oleh dan atas tanggung jawab Pimpinan Pusat. (2) Anggota Tanwir terdiri atas: a) Anggota Pimpinan Pusat, b) Ketua Pimpinan Wilayah, c) Wakil Wilayah, d) Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Pusat. (3) Tanwir diadakan sekurang-kurangnya tiga kali selama masa jabatan. (4) Acara dan ketentuan lain tentang Tanwir diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah Pasal 23, menjelaskan: (1) Tanwir diadakan oleh Pimpinan Pusat atau atas permintaan sekurang-kurangnya seperempat dari jumlah anggota Tanwir diluar anggota Pimpinan Pusat. (2) Tanwir diselenggarakan oleh dan atas tanggungjawab serta dipimpin Pimpinan Pusat. (3) Ketentuan tentang pelaksanaan, tata-tertib, dan susunan acara Tanwir ditetapkan oleh Pimpinan Pusat. (4) Undangan dan acara Tanwir dikirim kepada Anggota Tanwir selambat-lambatnya satu bulan sebelum Tanwir berlangsung. (5) Acara Tanwir: a. Laporan Pimpinan Pusat, b. Masalah yang oleh Muktamar atau menurut Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga diserahkan kepada Tanwir, c. Masalah yang akan dibahas dalam Muktamar sebagai pembicaraan pendahuluan, d. Masalah mendesak yang tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar, e. Usul-usul. (6) Tanwir dihadiri oleh: a. Anggota Tanwir terdiri atas: 1. Anggota Pimpinan Pusat, 2. Ketua Pimpinan Wilayah atau penggantinya yang telah disahkan oleh Pimpinan Pusat, 3. Wakil Wilayah terdiri dari unsur PWM dan atau PDM antara 3 sampai 5 orang berdasarkan perimbangan daerah dalam wilayah atas dasar keputusan Musyawarah Wilayah atau Musyawarah Pimpinan Wilayah. Ketentuan perimbangan ditetapkan oleh Pimpinan Pusat, 4. Wakil Pimpinan Organisasi Otonom tingkat Pusat masing-masing dua orang. b. Peserta Tanwir terdiri dari: 1. Wakil Unsur Pembantu Pimpinan tingkat Pusat masing-masing dua orang, 2. Undangan khusus dari kalangan Muhammadiyah yang ditentukan oleh Pimpinan Pusat. c. Peninjau Tanwir ialah mereka yang diundang oleh Pimpinan Pusat. (7) Anggota Tanwir berhak menyatakan pendapat, memilih, dan dipilih. Peserta Tanwir berhak menyatakan pendapat. Peninjau Tanwir tidak berhak menyatakan pendapat, memilih, dan dipilih. (8) Keputusan Tanwir harus sudah ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat selambat-lambatnya satu bulan sesudah Tanwir.(9) Pertemuan dan atau kegiatan lain yang diselenggarakan bersamaan waktu Sidang Tanwir diatur oleh penyelenggara. Tanwir berasal dari bahasa Arab; nawwara-yunawiru-tanwiran, artinya penyinaran atau penerangan. Dalam Kamus al-Asri Arabi Injilizi, sinonim tanwir adalah inarah dan ida’ah yang diartikan lighting dan illuminating. Dalam al-Mu’jam al-Falsafi, tanwir diartikan sebagai enlightenment (pencerahan).

Istilah tanwir mulai digunakan oleh Muhammadiyah sejak tahun 1932. Awalnya disebut Madjlis Tanwir, sebagai salah satu hasil Kepoetoesan Conferentie Consul Hoofdbestuur Moehammadijah Hindia Timoer di Djokjakarta (19-22 November 1932).

Dalam majalah Soeara Moehammadijah No. 4, Sja’ban 1351/December Th. XIV 1932, Kepoetoesan Conferentie tersebut dalam hal Pimpinan, poin keagamaan dimuat sebagai berikut (Ditulis sesuai dengan aslinya): 1. Oentoek mentjoekoepi boenji ajat terdjemahan (QS Al-A’raf: 157), maka Conferentie memoetoeskan: menambah seboeah badan lagi disampingnja Madjlis Tardjih jang diserahi mempeladjari dan meremboek masalah-masalah jang berhoeboengan dengan maksoed achir ajat Al-Qoeran terseboet. 2. Badan ini dinamakan “Madjlis Tanwir” dan terdiri dari semoea Consoel HB Moehamamdijah Hindia Timoer. 3. Semoea Consul diharoeskan mendjadi anggauta Madjlis Tanwir. 4.Oentoek mengerdjakan hariannja, maka diadakan Dagelijksch Bestuur jang terdiri dari toean-toean; R Moechtar, R Moeljadi Djojomarono, dan H Hasjim.

Dalam ART Muhammadiyah 1933 (Algemeene Huishouldelijk Regfement Moehammadijah) Fatsal VII ayat 6 poin b disebutkan: Majelis Tanwir, yaitu majelis yang diserahi mempelajari dan merembuk masalah-masalah yang berhubungan dengan maksud ayat Qur’an Surat A’raf ayat 157", juga tidak ada keterangan lebih lanjut. Jika dilihat dari kesamaan akar kata maupun hubungan artinya, kuat dugaan bahwa istilah Tanwir tersebut bertalian kuat dengan potongan ayat wa at-taba’un-nur (mengikuti cahaya). Ada kaitan kata Tanwir dengan an-nur yang artinya; penyinaran atau penerangan dengan cahaya atau sinar.

Dari informasi Soeara Moehammadijah No. 4/1932 dan ART Muhammadiyah 1933, penyebutan Madjlis Tanwir memiliki perbedaan dengan istilah Tanwir yang dikenal sekarang. Madjlis Tanwir menunjuk pada nama lembaga atau institusi pembantu HB Muhammadiyah, bukan sebagai lembaga permusyawaratan organisasi di bawah Muktamar.

Pada waktu KH Mas Mansur menjadi Ketua HB Muhammadiyah (1937-1941), istilah Madjlis Tanwir masuk sebagai langkah kedelapan dari Dua Belas Langkah Muhammadiyah yang dirumuskannya, yang berbunyi; “Menguatkan Majelis Tanwir. Sebab majelis ini nyata-nyata berpengaruh besar dalam kalangan Muhammadiyah dan sudah menjadi tangan kanan yang bertenaga di sisi Hoofdbestuur Muhammadiyah, maka sewajibnyalah kita perteguhkan dengan diatur yang sebaik-baiknya”.

Baru sejak tahun 1950 Majelis Tanwir secara berkala diadakan setahun sekali, setelah terjadi regulasi pelaksanaan Muktamar tiga tahun sekali. Istilah Tanwir dalam AD Muhammadiyah 1959, tidak lagi menyebut Madjlis Tanwir sebagaimana sebelumnya. Kendati demikian, pertemuan atau forum permusyawaratan Majelis Tanwir tersebut dinamakan Sidang Tanwir. Selain Muhammadiyah, organisasi otonomnya juga seperti Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, IMM, Tapak Suci dan HW juga menggunakan istilah Tanwir dalam penyelenggaraan musyawarahnya. (Im)