Tajdid

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

Tajdid berasal dari bahasa Arab yang dapat berarti pemurnian atau purifikasi (i'adat asy-syai ka al-mubtada) dan pembaruan, dinamisasi, atau reformasi (al-islah). Kata tajdid yang paling muktabar atau dikenal umum ialah pembaruan, setara dengan jadid artinya sesuatu yang baru. Sebagai sebuah gerakan, tajdid dimaksudkan sebagai upaya penafsiran, pengamalan, dan perwujudan ajaran Islam dalam konteks kekinian.

Syamsul Anwar (Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah periode 2000-2020) memaknai tajdid sebagai ikhtiar menemukan kembali substansi agama untuk pemaknaan baru dalam pengungkapannya dalam suatu konteks baru yang berubah, baik melalui purifikasi maupun dinamisasi. Purifikasi atau pemurnian ialah mengembalikan ajaran Islam pada yang asli sebagaimana telah ditentukan segala sesuatunya secara baku dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah yang sahih, khususnya yang menyangkut ibadah dan akidah. Sedangkan dinamisasi atau pembaruan ialah memperbarui urusan-urusan keagamaan sesuai pesan substansi ajaran Islam, lebih khusus di bidang mu'amalat duniawiyah.

Muhammadiyah, selama ini dikenal sebagai gerakan tajdid yang telah melakukan pembaruan dalam pemahaman dan pengamalan keislaman di Indonesia. Selama ini konsep tajdid dalam sebagian alam pikiran warga Muhammadiyah cenderung bermakna pemurnian (tajrid, tandhif). Konsep tajdid fil-Islam sering diartikan terbatas pada memurnikan ajaran Islam, yakni dengan kembali pada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang shaheh (maqbullah). Artinya isu al-ruju' ila-'l-Qur'an wa al-Sunnah sebagaimana menjadi spirit gerakan Muhammadiyah tidak ada makna lain selain pemurnian, yakni kembali pada ajaran dan sumber ajaran Islam yang murni. Tekanan pada pemurnian tersebut antara lain dapat ditemukan dalam rumusan Kepribadian Muhammadiyah ketika menjelaskan dakwah amar makruf nahi munkar kepada yang telah beragama Islam dan yang belum Islam, di sana dikatakan bahwa dakwah kepada yang telah Islam bersifat pembaruan (tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran Islam yang asli dan murni.

Pemaknaan tajdid sebagai pemurnian tentu lebih bersifat penekanan, bukan reduksi atau penyempitan makna, ketika kala itu umat Islam memang banyak yang tidak murni lagi dalam beragama Islam karena disertai dengan praktik syirik, tahayul, bid'ah, dan khurafat atau dikenal dengan istilah TBC. Pemaknaan yang khusus ke aspek pemurnian dalam Kepribadian Muhammadiyah tahun 1962 tersebut akan tidak mengalami penyempitan arti perlu juga dikaitkan dengan materi Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah tahun 1969 pada butir ketiga, yang menyatakan bahwa Muhammadiyah dalam mengamalkan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul dengan menggunakan akal pikiran sesuai jiwa ajaran Islam. Demikian pula dengan berbagai pemikiran yang berkembang dalam Muktamar ke-37 tahun 1968 di Yogyakarta tentang gerakan Re-Tajdid Muhammadiyah atau mentajdidkan kembali Muhammadiyah. Bahkan dengan hasil Tanfidz Muktamar tarjih XXII tahun 1990 di Malang, makna tajdid sekadar pemurnian secara substansi baik langsung atau tidak langsung telah di-nashah menjadi bermakna pemurnian (purifikasi) dan peningkatan, pengembangan, modernisasi, dan yang semakna dengannya). Dalam arti "pemurnian" tajdid dimaksudkan sebagai pemeliharaan matan ajaran Islam yang berdasarkan dan bersumber kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah atau Al-Maqbulah. Dalam arti "peningkatan, pengembangan, modernisasi, dan yang semakna dengannya", tajdid dimaksudkan sebagai penafsiran, pengamalan, dan perwujudan ajaran Islam dengan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah atau Al-Maqbulah. Guna melaksanakan tajdid dalam kedua pengertian tersebut diperlukan aktualisasi akal pikiran yang cerdas dan fitri, serta akal budi yang bersih, yang dijiwai oleh ajaran Islam. Menurut Persyarikatan Muhammadiyah, tajdid merupakan salah satu watak ajaran Islam. Tujuan tajdid adalah untuk memfungsikan Islam sebagai furqan, hudan, dan rahmatan lil-'alamin, termasuk mendasari dan membimbing perkembangan kehidupan masyarakat, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kini guna menghadapi dinamika pemikiran yang serba ekstrim, maka tajdid Muhammadiyah pada tataran konsep baik yang bersifat pemurnian maupun pengembangan memerlukan pengayaan. Sejalan dengan kaidah klasik al-muhafadhat 'ala al-qadim al-shalih al-akhdz bi al-jadid al-ashlah (memelihara khazanah lama yang baik dan mengembangkan khazanah baru yang lebih baik), Muhammadiyah dengan tajdidnya tidak boleh berhenti dengan slogan pemurnian dan pengembangan. Purifikasi (pemurnian) perlu dipertajam dan diperkaya, demikian juga dengan dinamisasi. Tidak boleh terjebak pada stagnasi, bahwa pemurnian kemudian menjadi sekadar bertahan pada hal-hal aseli tanpa pengayaan. Demikian pula dinamisasi sekadar mengembangkan dan memperbarui tanpa pijakan yang fundamental dalam rujukan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagaimana faham Islam dalam Muhammadiyah. Dengan demikian tajdid yang bersifat pemurnian (purifikasi) dan pembaruan (dinamisasi) tetap berada dalam koridor al-ruju' ila al-Qur'an wa al-Sunnah sebagaimana misi utama kelahiran Muhammadiyah satu abad yang silam.

Dari gerakan Muhammadiyah ini Islam hadir sebagai agama rahmatan lil-'alamin di tengah dinamika lalulintas peradaban modern. Islam bahkan mampu menjadi peradaban alternatif yang membawa keselamatan hidup umat manusia.(Im)