Tahayul

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

Kata tahayul berasal dari bahasa Arab, al-tahayul yang bermakna reka-rekaan, persangkaan, dan khayalan. Secara istilah, tahayul adalah kepercayaan terhadap perkara ghaib, yang kepercayaan itu hanya didasarkan pada kecerdikan akal, bukan didasarkan pada sumber Islam, baik Al-Qur’an maupun al-Hadis.

Dari istilah tahayul tersebut ada dua kategori tahayul, yaitu: 1. Kekuatan ingatan yang terbentuk berdasarkan gambar indrawi dengan segala jenisnya, (seperti: pandangan, pendengaran, pancaroba, penciuman) setelah hilangnya sesuatu yang dapat diindera tersebut dari panca indra kita. 2. Kekuatan ingatan lainnya yang disandarkan pada gambar indrawi, kemudian satu dari unsurnya menjadi sebuah gambar yang baru. Gambar baru tersebut bisa jadi satu hal yang benar-benar terjadi, atau hal yang diluar kebiasaan (kemustahilan), seperti kisah 1001 Malam, Nyai Roro Kidul, dan lain-lain.

Tahayul diartikan juga: percaya kepada sesuatu yang tidak benar (mustahil). Jadi takhayul merupakan bagian dari khurâfat. Tahayul menjadikan seorang menyembah kepada pohon, batu atau benda keramat lainnya, dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub) atau karena benda-benda tersebut memiliki kedigdayaan (kesaktian) yang mampu menolak suatu bencana atau mampu mendatangkan sebuah kemaslahatan. Ini salah satu dampak tahayul. Jika demikian maka Tauhid Rubûbiyyah dan Tauhid Ibadah seorang hamba akan keropos dan hancur. Firman Allah, yang artinya: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”... (QS. 39:3). Tahayul menjadi senjata para ahli bid’ah dalam menguatkan argumennya dengan dalih hal-hal tersebut sesuai dengan syari’at yang disandarkan secara dusta kepada salafus shalih.

Di berbagai negara, khususnya Timur Tengah, kepercayaan terhadap tahayul ini pernah berkembang pesat. Pada zaman Persi misalnya, sudah ada agama Zoroaster. Menurut agama ini, ada Tuhan baik dan Tuhan buruk (jahat). Api dilambangkan sebagai Tuhan yang baik. Sedang angin topan dilambangkan sebagai Tuhan yang jahat. Kepercayaan ini berkembang dengan keharusan untuk menghormatinya, yang kemudian diwujudkan dengan sajian atau dengan penyembahan melalui cara tertentu terhadap sesuatu yang menjadi pujaanya yang dirasa mempunyai kekuatan tertentu.

Di Indonesia, tahayul berkembang dan menyebar, tidak lepas dari pengaruh agama dan kepercayaan lama. Adanya bencana alam yang menimbulkan korban menjadikan manusia berfikir untuk selalu baik dan menyantuni alam, direalisasikan dalam bentuk pemujaan, dengan harapan alam tidak akan marah dan mengamuk lagi. Kepercayaan- semacam ini terus berlanjut dan berkembang bersama perkembangan kerajaan-kerajaan Hindu yang menggunakan mistik (kebatinan) sebagai salah satu alirannya.

Muhammadiyah adalah pelopor gerakan tajdid (pembaharu) yang tidak menghendaki adanya Takhayul, Bid’ah, Khurofat, Syirik dan Taqlid buta dalam aqidah dan ibadah umat Islam. Pembaharuan yang dilakukan Muhammadiyah adalah menyatukan ajaran “Ar-ruju’ ila al-Qur’an wa Al-Sunnah” (kembali kepada Qur’an dan Sunah) dengan semangat “Ijtihad dan Tajdid”. (Im)