Ta'awun

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

Ta’awun berasal dari bahasa Arab, yang artinya; Tolong menolong. Sedangkan menurut istilah, pengertian Ta’awun adalah sifat tolong menolong diantara sesama manusia dalam hal kebaikan dan takwa. Dalam ajaran Islam, tolong menolong merupakan kewajiban setiap muslim. Sudah semestinya konsep tolong menolong ini dikemas sesuai dengan syariat Islam, dalam artian tolong menolong hanya diperbolehkan dalam kebaikan dan takwa, dan tidak diperbolehkan tolong menolong dalam hal dosa atau permusuhan.

Dalam surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya: “Dan tolong -menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikandan taqwa dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah sangat berat siksaannya”.

Islam sangat menjunjung tinggi tolong menolong. Tolong menolong telah menjadi sebuah keharusan, karena apapun yang kita kerjakan tentu membutuhkan pertolongan dari orang lain. Apabila praktik ta’awun telah tegak dalam kehidupan manusia, khususnya umat Islam, maka akan semakin kokoh integrasi dan ukhuwah umat Islam. Ta’awun yang terus menguat ini akhirnya mewujud dalam bentuk takaful (rasa dan sikap saling memberikan jaminan dan perlindungan antara satu dengan lainnya).

Oleh karena itu, sebagai umat yang beragama Islam, seyogianya kita wajib menerapkan sifat ta’awun ini dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya, Pertama, mengajak dalam ketaqwaan kepada Allah SWT. Ta’awun (tolong menolong) yang dianjurkan adalah ta’awun (tolong menolong) dalam mengajak saudara sesama muslim untuk bertaqwa kepada Allah Swt, mengajak bersama-sama menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua, loyal terhadap sesama kaum muslimin. Loyalitas dalam pemikiran berarti selalu ber-husnudzan atau berprasangka baik kepada sesama muslim. Tidak mengira atau menuduh seorang muslim lain dengan sangkaan buruk. Loyal terhadap perkataan, memiliki arti saling menasihati dalam kebaikan. Loyal secara perbuatan terhadap sesama muslim adalah melakukan tindakan amar ma’ruf nahi munkar dan mengajak saudara sesama muslim untuk melakukannya.

Ketiga, saling melindungi dan bersatu diantara kaum muslimin. Kokohnya agama Islam layaknya sebuah bangunan, yang di dalamnya semua umat muslim harus bersatu dalam menegakkan kebenaran dan ketaqwaan. Jika umat Islam tidak mampu menjaga kekokohan agamanya, maka hancurlah agama tersebut. Maka dari itu, saling melindungi diantara sesama umat muslim sangat dianjurkan sebagai bentuk ta’awun.

Muhammadiyah dalam rangka merayakan milad ke-106 tahun 2018 di Pura Mangkunegaran, Surakarta, mengambil tema “Ta’awun untuk Negeri”. Tema ini menegaskan komitmen, tanggung jawab, dan jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, kemanusiaan, dan keindonesiaan.

Ta’awun mengandung pengertian luas, tidak terbatas pada saat terjadi musibah. Sejak kelahirannya, selain reformasi pendidikan, Muhammadiyah menunjukkan jati dirinya sebagai gerakan sosial-kemanusiaan. Berdasar surah al-Maun, KH Ahmad Dahlan menanamkan jiwa kedermawanan.

Mengusung tema “Ta’awun Untuk Negeri” berarti menyuarakan pesan keruhanian khususnya bagi warga Muhammadiyah dan umat Islam maupun secara umum kepada seluruh warga bangsa untuk mengembangkan segala daya untuk mengembangkan sikap saling tolong-menolong atau bekerjasama dalam hal segala kebaikan bagi kepentingan dan kemaslahatan negeri Indonesia. Tolong menolong dalam hal kebaikan dan taqwa, bukan tolong menolong dalam hal dosa dan keburukan sebagaimana pesan luhur Allah dalam Al-Quran Surat Al-Ma’idah ayat kedua.

Karenanya melalui “Ta’awun untuk Negeri” penting untuk menjadi rujukan seluruh anggota dan institusi Muhammadiyah dalam meneguhkan sikap serta melakukan berbagai aktivitas yang dijiwai spirit Al-Ma’idah ayat kedua itu yang diaktualisasikan ke dalam aksi-aksi Muhammadiyah untuk negeri. Spirit ta’awun itu dapat menjadi energi moral dan sosial yang luar biasa dalam membangun kebersamaan dan mencegah keretakkan di tubuh persyarikatan, umat, dan bangsa di Indonesia.

Dalam Muhammadiyah ajaran ta’awun sejiwa dan seiring dengan spirit Al-Ma’un sebagaimana menjadi salah satu ciri gerakan Islam ini sejak didirikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan 108 (2020) tahun yang silam. Bahwa setiap muslim yang menganut Islam dia harus mewujudkan agamanya dalam membela dan memberdayakan kaum miskin, yatim, dan dhu’afa-mustadh’afin. Sebaliknya termasuk dusta beragama manakala dirinya tidak mau menolong terhadap kaum yang lemah dan papa. Apalah artinya beragama manakala tidak peduli dan berbagi untuk mereka yang bernasib malang dalam kehidupannya.

Ajaran Al-Ma’un dalam Muhammadiyah telah menjadi gerakan praksis sosial Islam yang bersifat membebaskan (emansipasi, liberasi), memberdayakan (empowerment), dan memajukan kehidupan umat dan bangsa yang lemah. Gerakan Al-Ma’un melahirkan rumah sakit, klinik, pelayanan sosial, tanggap kebencanaan, dan pemberdayaan masyarakat. Praksis Al-Ma’un saat ini melahirkan aksi kemanusiaan (humanitarian) untuk semua baik di dalam maupun luar negeri dalam gerakan “Muhammadiyah For All” atau “Muhammadiyah Untuk Semua”. Inilah yang disebut Asghar Ali sebagai teologi pembebebasan (The Theology of Liberation) dalam Islam.

Ta’awun untuk negeri adalah sebuah gerakan moral, akhlaq al-karimah yang maslahah. Ta’awun tidak terbatas pada saat terjadi musibah, tetapi amal saleh yang dilaksanakan dengan istiqamah untuk menyelesaikan masalah dan menghilangkan musykilah (kesulitan) dan masyaqqah (penderitaan). (Im)