Sutrisno Muchdam

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
Drs. H. Sutrisno Muchdam, M.M.

Drs. H. Sutrisno Muchdam, MM. lahir di Klaten, Jawa Tengah, 14 Oktober 1938, putra dari H. Muhammad Damiri. Setamat dari Sekolah Rakyat di daerah kelahirannya, dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke PGAP di Yogyakarta. Pada akhir tahun ia mengikuti dan lulus ujian exrane SMP bagian B. Setelah itu, melanjutkan ke PHIN dan pada akhir tahun dia menempuh dan lulus ujian SMA bagian C. Dia kemudian mendapatkan beasiswa dan meneruskan kuliah di IKIP Muhammadiyah Jakarta, berhasil menggondol sarjana muda tahun 1962. Kemudian, dia melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara dan lulus tahun 1973. Untuk tingkat S2, dia kuliah di STIE IPWI Jakarta dengan konsentrasi Sumberdaya Manusia dan berhasil meraih gelar MM, tahun 1996.

Semasa kuliah di IKIP Muhammadiyah Jakarta (sekarang UHAMKA), Sutrisno menjadi salah satu tokoh yang membidani lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ia juga terlibat dalam pembentukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Ia merupakan ketua PP Pemuda Muhammadiyah selama dua periode, yaitu 1975-1980 dan 1980-1985. Ia juga masuk jajaran PP Muhammadiyah dalam rentang cukup panjang, yaitu mulai 1985 hingga 2000. Dia pernah dipercaya dua kali sebagai ketua penyelenggara Muktamar Muhammadiyah, yaitu ketika Muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh tahun 1995 dan Muktamar ke-44 di Jakarta tahun 2000.

Jabatan-jabatan lain yang beliau pegang di lingkungan Muhammadiyah adalah, Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta yang menangani beberapa rumah sakit milik Muhammadiyah di Jakarta. Dia juga pernah menjabat sebagai Penasehat PT Surya Ventura Manunggal Yogyakarta, Penasehat PT Ruslam Cempaka Putih Jakarta, Penasehat PT Mentari Citra Utama serta Ketua Dewan Pengawas DAPERSI (Dana Pensiun Rumah Sakit Islam Jakarta), Ketua Badan Pelaksana Harian Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) dan menjadi anggota Dewan Penasehat Himpunan Pengusaha Muda Muhammadiyah. Selain di Muhammadiyah, dia juga aktif diberbagai organisasi, diantaranya: Majelis Ulama Indonesia, Wakil Ketua Musyawarah Perguruan Swasta Pusat 1991-1996, Wakil Ketua PP Dewan Masjid Indonesia 1995-2000, dan beberapa organisasi lainnya.

Kariernya dimulai sebagai pegawai negeri di Departemen Agama, ditempatkan di Provinsi Nusa Tenggara di Bali. Selain itu, dia pernah juga menjadi guru di SMA Muhammadiyah Jakarta. Dia juga ikut membentuk Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dengan jabatan mulai dari Staf Biro Umum sampai akhirnya menjadi Kepala Biro Penilaian Aplikasi Perubahan Non Industri, serta Pembantu Asisten Bidang Penggunaan Dana Sektor Primer.

Jabatan yang pernah dipegang oleh Sutrisno Muchdam diluar pekerjaannya sebagai pegawai negeri adalah penasehat delegasi pemerintah RI pada KTT Organisasi Negara-negara Islam di Thaif, Arab Saudi tahun 1981. Delegasi ini diketuai oleh H. Adam Malik. Pak Tris pernah menjadi anggota MPR RI dari utusan golongan mewakili Muhammadiyah (1997-1998). Selain itu, beliau menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (1998-2003). Beliau juga menjadi salah satu anggota Komite Reformasi yang terdiri dari sembilan tokoh Islam yang hadir memenuhi undangan Presiden Soeharto ke Istana pada 18 Mei 1998 terkait dengan pernyataan lengser dari presiden dan agenda reformasi. Pak Tris termasuk tokoh Muhammadiyah yang memelopori bergabungnya ABRI dalam pembentukan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) untuk melawan G.30.S PKI.

Sutrisno Muchdam terkenal sebagai seorang tokoh yang sederhana, jujur, arif, akomodatif, toleran dan memiliki dedikasi yang tinggi. Beliau sering dimintai pandangan dan pendapat. Bahkan, tidak jarang diminta untuk menengahi konflik-konflik yang terjadi di lingkungan organisasi. Baik di tingkat Cabang, Daerah, Wilayah dan Pusat. Di dalam menengahi konflik-konflik tersebut, strategi yang sering dipergunakan, tampak lebih cenderung kepada pendekatan yang didasarkan kepada persaudaraan, harmoni dan mencari titik-titik persamaan, ketimbang membicarakan perbedaan-perbedaan. Dia tampak sangat hati-hati dan tidak mau mempermalukan orang di depan lainnya. Untuk itu, dia sering memilih cara win-win solution dalam menangani konflik dan perbedaan pendapat.

Pak Tris turut berjasa dalam menyelamatkan eksistensi organisasi otonom Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Waktu itu, pemerintah membuat aturan keharusan perubahan nama organisasi pelajar. IPM mengalami masalah karena tidak mau merubah kata “Pelajar”. Muktamar IPM tahun 1989 yang sedianya digelar di Medan batal dilaksanakan, tidak mendapat ijin penyelenggaraan. Pergantian pimpinan IPM diselenggarakan secara darurat pada awal tahun 1990. Sejak saat itu IPM mengalami masalah eksistensi dan legalitas organisasi. Akhirnya, pada tahun 1992, Pimpinan Pusat IPM menghadap Pak Tris selaku Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, untuk menyampaikan permasalahan tersebut dan rencana penyelenggaraan Konpiwil IPM dengan mengundang Menteri Pemuda dan Olah Raga. Mendapat keluhan demikian, Pak Tris langsung menelpon seseorang dari kantornya waktu itu. Ternyata beliau menelpon Menpora Akbar Tanjung dan menyampaikan keinginan IPM tersebut. November 1992, Konpiwil IPM terselenggara di Yogyakarta, dihadiri Menpora Akbar Tanjung. Kesediaan hadir menteri ini menjadi pertanda baik bagi IPM bahwa eksistensinya masih diakui pemerintah, sekalipun beberapa bulan setelah itu, IPM akhirnya harus tetap berganti nama menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah.

Pak Tris, begitu panggilan akrabnya, banyak melakukan terobosan, diantaranya seperti yang terlihat di Rumah Sakit Islam Jakarta, yaitu dengan mendorong masing-masing rumah sakit untuk meningkatkan investasi dengan meningkatkan SHU dengan tetap komit kepada peningkatan mutu pelayanan dan peningkatan kesejahteraan karyawan. Beliau juga membidani kelahiran layanan jenazah yang diberi nama Nafsul Muthmainnah di lingkungan Yayasan Rumah Sakit Islam Jakarta.

Sutrisno Muchdam memperoleh dua buah tanda kehormatan, yaitu Tanda Kehormatan Satya Lencana Wirakarya yang diterima tanggal 5 Agustus 1996, dan tanda kehormatan Satya Lencana Karyasatya, 30 Juli 1997. Pada tanggal 6 September 2014, bersama KH A. Azhar Basyir, MA; H.S. Prodjokusumo; Drs. H.M. Djazman Al-Kindi; dr. Muh. Suherman dan H.M. Lukman Harun, Drs. H. Sutrisno Muchdam, mendapat penghargaan dari Universitas Muhammadiyah Malang, berupa UMM Award, atas jasa-jasanya terhadap Persyarikatan Muhammadiyah, dedikasi yang luar biasa dalam menggerakkan dakwah pendidikan Muhammadiyah hingga berkembang seperti sekarang.

Sutrisno Muchdam wafat di Yogyakarta, pada tanggal 12 Desember 2002 dengan meninggalkan seorang isteri, Siti Wasilah (puteri dari Pak AR Fachruddin), dan empat orang anak.***