Suara Muhammadiyah

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
Tampilan Majalah SM mutakhir
Majalah SM beraksara Jawa tahun 1915

Suara Muhammadiyah adalah majalah resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Dirintis oleh KHA Dahlan dan Haji Fachrodin, Suara Muhammadiyah (Soeara Moehammadijah) pertama kali terbit pada bulan Dzulhijjah tahun 1333 H (1915 M). Pemimpin redaksi (hoofdredacteur) pertama adalah Haji Fachrodin. Jajaran redaksi (redacteuren) terdiri dari: H. Ahmad Dahlan, H.M. Hisjam, R.H. Djalil, M. Siradj, Soemodirdjo, Djojosugito, dan R.H. Hadjid. Pengelola administrasi: H.M. Ma’roef dibantu Achsan B. Wadana. Pertama kali terbit, Suara Muhammadiyah hadir sebagai majalah bulanan dengan bahasa Jawa di bawah manajemen Bagian Taman Pustaka Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah Yogyakarta.

Suara Muhammadiyah, atau sering disingkat SM, menjadi majalah tertua di Indonesia yang membersamai perjalanan sejarah Muhammadiyah dan Indonesia. Sampai tahun 1923, penyebaran SM masih terbatas di Pulau Jawa dan menggunakan bahasa Jawa dan Melayu. Seiring dengan perkembangan Muhammadiyah yang mulai diterima secara luas di seluruh Indonesia, maka SM mulai menggunakan bahasa Indonesia dalam setiap penerbitannya.

Sebagai majalah resmi Persyarikatan Muhammadiyah, SM berfungsi sebagai media informasi dan komunikasi antarwarga persyarikatan. Kini SM juga telah mengembangkan diri dengan menerbitkan buku-buku yang memuat tema tentang Islam dan Kemuhammadiyahan.

Sebagai perintis, KH Ahmad Dahlan juga terlibat serta dalam mengelola majalah SM, yaitu sejak tahun 1915 hingga tahun 1923. Ketika itu SM masih menggunakan bahasa Jawa dan Melayu, serta baru disebarkan untuk wilayah Jawa saja.

Terbitnya majalah SM tidak dapat dipisahkan dari kelahiran lembaga bernama Bahagian Taman Pustaka, yang kini bernama Majelis Pustaka dan Informasi (MPI). Dimasa KH Ahmad Dahlan, Bahagian Taman Pustaka dibentuk untuk menerbitkan majalah, buku maupun selebaran-selebaran penting Muhammadiyah. Bahagian Taman Pustaka pertama kali dipimpin oleh H.M. Mukhtar. Suara Muhammadiyah terbit sebagai majalah bulanan, dengan pemimpin redaksi yang pertama adalah H. Fachrodin. Kemudian digantikan oleh H.A. Hanie. Majalah SM ketika itu terbit sebanyak 1.000 eksemplar, oplah yang terbilang cukup besar untuk ukuran saat itu.

Dalam perkembangannya, SM memasuki fase baru pada tanggal 15 Juli 1965, yang ditandai dengan dikeluarkannya Surat Izin Terbit (SIT) Departemen Penerangan No. 19/SK/DPHM/SIT/1965 tertanggal 2 September. Sejak saat itu, tepatnya saat berlangsung Muktamar Muhammadiyah ke-36 pada 9-15 Juli 1965 di Bandung, SM nomor perdana dengan SIT Deppen diedarkan ke peserta Muktamar. Tetapi di tahun 1986, sesuai dengan peraturan baru, SIT diganti dengan Surat Izin Untuk Penerbitan Pers (SIUPP), sesuai dengan SK. Menpen RI No. 200/SK/Menpen/SIUPP/D.2/1986 tertanggal 28 Juni 1986. Sejak saat itu pula penerbitan SM resmi di bawah naungan ‘Yayasan Penerbit Pers Suara Muhammadiyah.” Kemudian pada tahun 1988, persisnya pada edisi nomor 13 tahun ke-68/Juli 1988, SM resmi terdaftar di pers internasional dengan nomor International Standard Serial Number (ISSN): 0215-7381.

Sebagai media pers nasional dan majalah resmi Persyarikatan Muhammadiyah, SM merupakan sarana informasi dan komunikasi warga persyarikatan dan juga merupakan bacaan yang dianjurkan bagi pengurus, pimpinan, karyawan amal usaha Muhammadiyah, dan kalangan pembaca yang simpati terhadap informasi maupun aktivitas gerakan Muhammadiyah.

Segmentasi pembaca majalah SM terdiri dari aktivis Muhammadiyah, pimpinan Muhammadiyah dari pusat hingga ranting, pimpinan dan karyawan amal usaha Muhammadiyah, lembaga, majelis, ortom dan pembaca umum yang menaruh minat terhadap perkembangan Muhammadiyah dan studi keislaman.

Tahun 2016-2018 adalah masa yang spesial bagi majalah SM. Tiga tahun itu beberapa penghargaan dianugerahkan kepada majalah ini. Pada 11 Oktober 2016 Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan kepada Suara Muhammadiyah sebagai majalah Islam yang terbit berkesinambungan terlama. Setahun kemudian, giliran Serikat Perusahaan Pers (SPS) memberikan penghargaan kepada majalah ini sebagai salah satu majalah tertua di Indonesia.

Pada momentum peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2018, Panitia Hari Pers Nasional memberikan penghargaan kategori Kepeloporan sebagai Media Dakwah Perjuangan Kemerdekaan RI dalam bahasa Indonesia kepada majalah SM. Pada 24 Juli 2018 SM mendapatkan penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai penerbit yang aktif dalam pelaksanaan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam untuk kategori majalah.

Majalah Suara Muhammadiyah cukup dikenal setidaknya di lingkungan keluarga Muhammadiyah serta para cendekiawan Muhammadiyah. Majalah ini diterbitkan sebagai medium komunikasi internal organisasi Muhammadiyah. Melalui majalah ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendiseminasikan berbagai keputusan organisasi yang mesti diketahui dan dijalankan oleh Muhammadiyah di tingkat wilayah, daerah, cabang dan ranting.

Kini, Majalah Suara Muhammadiyah yang telah berusia seabad konsisten terbit dwi mingguan dengan mengusung motto: “Meneguhkan dan Mencerahkan”. Hadir dengan versi digital dan cetak, Majalah Suara Muhammadiyah yang kini dikelola oleh kader-kader muda Muhammadiyah yang tergabung dalam PT Syarikat Cahaya Media (amal usaha milik PP Muhammadiyah) siap menjadi corong utama Persyarikatan Muhammadiyah. Selain itu, sesuai dengan perkembangan zaman SM tidak ketinggalan hadir dalam versi digital dengan alamat url: suaramuhammadiyah.id. (Im)

Berbagai tampilan majalah SM lama