Suara Aisyiyah

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
Error creating thumbnail: Unable to save thumbnail to destination
Perkembangan penampilan majalah Suara Aisyiyah
Sampul-sampul majalah Suara Aisyiyah yang tampil dalam google search


Suara ‘Aisyiyah adalah majalah resmi milik Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, terbit sejak tahun 1926 sampai sekarang, tepatnya terbit pertama kali pada bulan Rabi'ul Awwal 1345 H bertepatan dengan bulan Oktober 1926. Suara ‘Aisyiyah, biasa disingkat SA, adalah majalah wanita tertua di Indonesia yang perkembangannya dapat diikuti sejak zaman kolonial Belanda, zaman Jepang hingga zaman kemerdekaan.

Selain sebagai alat organisasi yang mempublikasikan program-program Aisyiyah, majalah yang terbit bulanan ini juga alat yang strategis dalam memberikan perluasan pengetahuan dan penyadaran pada warga Aisyiyah khususnya akan peran perempuan dalam dunia domestik dan publik. Majalah Suara 'Aisyiyah merupakan salah satu bukti sejarah berdirinya Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Melalui majalah ini 'Aisyiyah menyuarakan suara kaum perempuan yang waktu itu masih terbatas akses informasinya.

Di awal terbitnya Suara Aisyiyah yang digawangi oleh Siti Djoehainah ini menggunakan bahasa Jawa. Tahun pertama, Suara Aisyiyah dicetak dengan oplah antara 600-900 eksemplar, dibagikan secara gratis. Memasuki tahun kedua sebagian isinya menggunakan bahasa Indonesia. Pada tahun 1930 seluruh isinya menggunakan bahasa Indonesia, mengikuti Sumpah Pemuda yang mendeklarasikan tekad mnenggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bagi seluruh bangsa Indonesia. Saat itu Pimpinan Pusat Aisyiyah juga memberikan instruksi agar semua Pimpinan Cabang Aisyiyah menyelenggarakan kursus Bahasa Indonesia.

Saat pecah Perang Dunia II, majalah ini memperingatkan kepada kaum perempuan tentang apa yang harus dilakukan dalam keadaan perang, termasuk pengamanan terhadap bom bagi anak-anak, membentuk lumbung pangan, dan lain sebagainya. Pada era pemerintahan Jepang, Suara Aisyiyah pernah tidak terbit, karena Jepang pada waktu itu membungkam semua kegiatan organisasi. Namun, ketika pemerintahan Jepang berakhir, tahun 1952 Suara Aisyiyah terbit kembali dan beredar di seluruh wilayah Indonesia. Dan oplahnya juga terus merangkak naik.

Sebagai organ dari perkumpulan Aisyiyah, Suara Aisyiyah selain berisi artikel bertema agama dan perempuan, juga mencantumkan verslag (laporan) sidang Aisyiyah dari tiap cabang atau ranting. Begitu juga laporan hasil rapat Siswa Praja Wanita yang sekarang bernama Nasyiatul Aisyiyah (bahkan mulai 1939, pada setiap terbitan Suara Aisyiyah didapati juga lembaran Taman Nasyiah). Berdasar hasil angket pembaca Suara Aisyiyah (terkini), sebanyak 75,49% pembaca memilih Suara Aisyiyah lantaran ingin tahu perkembangan Aisyiyah. Bahkan di antaranya memilih berita organisasi sebagai bacaan favorit. Dari hasil angket itu, setidaknya Suara Aisyiyah dianggap berhasil mencitrakan dirinya sebagai jendela organisasi, dan sangat bisa jadi, itulah unsur utama imunitas atau daya tahan Suara Aisyiyah hingga lebih dari 10 windu.

Pada awal terbitnya, Cabang-cabang Aisyiyah juga terlibat dalam mensuplai tulisan. Bahkan pembagian tulisan diputuskan dalam kongres Muhammadijah bagian Aisyiyah, yang mengalokasikan waktu khusus untuk mendengar kabar Suara Aisyiyah, dan menyoal perkembangannya. Tapi tak berarti pengurus cabang yang ditunjuk, rutin mengirimkan sesuai tugasnya, sampai-sampai pernah Suara Aisyiyah mengalami krisis artikel dan memuat artikel panjang yang sengaja ditulis penulisnya untuk kemudian dicetak buku.

Berbeda dengan surat kabar atau majalah yang umumnya menetapkan biaya langganan. Suara Aisyiyah justru menerbitkannya secara percuma, dan sebagai gantinya pembaca diharapkan memberi derma. Karena derma, tentu saja tanpa ketentuan besaran. Pada tiap cabang dan grup, Suara Aisyiyah dibagikan secara gratis, bagi pengurus cabang atau grup yang memberi derma, pihak Suara Aisyiyah akan memberikan lebih jumlah majalah.

Meski menyediakan tempat advertensi dengan tarif 1 halaman f.4,-; ½ halaman f. 2,25,- dan ¼ halaman f.1,25,- tapi tetap saja pembiayaan penerbitan tak selalu tanpa kendala. Bahkan pernah Suara Aisyiyah mengalami situasi yang mereka sebut "hidup tak subur, mati tak suka". Pengurus Suara Aisyiyah beberapa kali mensiasati lewat tebal-tipisnya halaman, maupun memperpanjang jarak waktu terbit atau tidak terbit sesuai jadwal. Karena tak mungkin Majelis Aisyiyah pada waktu itu menanggung sendiri biaya cetak, sebagian besar ongkos penerbitan dialihkan kepada sekalian pembaca. Muncul kemudian slogan "Dari kita, oleh kita, dan bagi kita".

Melihat kondisi Suara Aisyiyah pada waktu itu yang mengalami kesulitan, Siti Hajinah yang waktu itu menjadi salah seorang Pimpinan Aisyiyah, dalam kongres Aisyiyah ke-21 melontarkan kalimat provokatif, "Marilah Soeara Aisjijah itu kita hidupi betul-betul… Kalau tidak, baiklah kita bunuh saja mati-mati dan kita tanam dalam-dalam". Kalimat itu diulangi lagi dalam kongres ke-22. Demikian juga Siti Nasoechah. Ajakannya untuk mengembangkan Suara Aisyiyah tidak kalah provokatifnya. Dia mengatakan, "Janganlah kiranya lemah di tengah jalan, undur maju tak mau, membelakang ketakutan, melontar tak berani. Kalau sudah begitu, lama kelamaan mudah tertiup angin".

Kini setelah hampir satu abad, Soeara Aisjijah yang berganti ejaan menjadi Suara Aisyiyah ini, oplahnya telah mencapai 6000 eksemplar. Didistribusikan di seluruh wilayah Indonesia, di mana ada pengurus wilayah, daerah, cabang atau ranting Aisyiyah sebagaimana dahulu, dan sudah menjangkau luar negeri, yakni Singapura, Australia, Mesir dan Amerika. (Im)

Tampilan Suara Aisyiyah di masa Kolonial Belanda