Prangko Amal Muhammadiyah

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
Prangko amal PKO seharga 2 cent dan 3.5 cent
Prangko amal PKO seharga 15 cent

Prangko Amal yaitu prangko yang penerbitannya dimaksudkan untuk menghimpun dana bagi kepentingan amal dan dijual dengan harga tambahan. Pendapatan dari hasil penjualan prangko ini setelah dikurangi dengan harga prangko, ongkos pembuatan dan ongkos lainnya kemudian disumbangkan kepada suatu badan amal yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Prangko amal Muhammadiyah, menurut catatan pernah diterbitkan pada tahun 1941-1942. Perangko amal ini diterbitkan oleh pemerintah kolonial Belanda, hasil yang diperoleh dari penjualan prangko itu diperuntukkan bagi Persyarikatan Muhammadiyah. Ada 5 macam prangko yang diterbitkan, yakni bernilai 2, 3½ , 7½ , 10 dan 15 sen. Gambar-gambar prangko itu memperlihatkan kegiatan Bahagian PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) dalam upaya membantu orang sakit dan kaum dhuafa. Penjualan dimulai dari 22 September 1941 hingga akhir Oktober 1941, dengan masa berlaku prangko hingga akhir bulan Juli 1942.

Sebuah koran berbahasa Belanda, Soerabaijasch Handelsblad, pada 24 September 1941 memberitakan bahwa dalam dua hari sejak diluncurkan, Muhammadiyah berhasil mengumpulkan dana sebesar 1.500 gulden dari penjualan perangko itu.

Penerbitan perangko amal ini tidak bisa dilepaskan dari peran Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah waktu itu yaitu Kyai Haji Mas Mansur. Pada mulanya, pemerintah Hindia-belanda mengeluarkan perangko amal yang keuntungan penjualannya diserahkan kepada organisasi misi Kristen. Menanggapi hal ini, Muhammadiyah meminta kepada pemerintah kolonial Belanda agar diperbolehkan mengeluarkan perangko amal pula. Muhammadiyah kemudian membentuk Komite Perangko Amal. Komite berupaya melobi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda di Bogor.

Menanggapi permintaan Muhammadiyah Gubernur Jenderal tidak hanya menyetujui saja bahkan memberikan bantuan juga. Kepada Komite, Gubernur Jenderal memberikan bantuan sebesar 500 gulden yang diserahkan melalui pelindung Komite, Hoesein Djajadiningrat, dengan kalimat untuk tujuan yang bermanfaat.

Menurut Haary Jundrich Benda dalam bukunya Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang (terj. Oleh Daniel Dhakidae), Prof. Benda mengungkapkan bahwa penerbitan perangko amal bagi kepentingan Muhammadiyah merupakan politik pemerintah kolonial Belanda untuk memperoleh sekutu dari kalangan Islam dalam menghadapi perang melawan Jepang. "Bertambah mantapnya gerakan Islam, dengan bersatunya kelompok modernis dan kelompok tradisionalis dalam wadah MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) pada bulan September 1937. Dibayangi ketakutan perang melawan Jepang, Belanda mulai menyadari kebutuhan memperoleh sekutu di kalangan Islam. Hal ini ditandai dengan membuka Sekolah Penghulu di Jawa Barat, subsidi yang cukup besar bagi jemaah haji, serta perangko amal bagi kepentingan Muhammadiyah”.

Dokumen penjelasan tentang prangko amal (1)
Dokumen penjelasan tentang prangko amal (2)