Mohammad Djindar Tamimy

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
Error creating thumbnail: Unable to save thumbnail to destination
K.H. M. Djindar Tamimy

H. Mohammad Djindar Tamimy, lahir Sabtu, 28 Juli 1923 Miladiyah bertepatan 1 Syafar 1342 Hijriyah, sekitar lima bulan setelah KHA Dahlan wafat. Anak kesepuluh dari pasangan H. Mohammad Tamim dan Siti Asmah. Pak Djindar mudah mengawali pendidikannya di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kauman (1929) yang telah ada sejak 1919. Selanjutnya belajar di Standaard School Muhammadiyah Suronatan (1936), dan melanjutkan ke Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1941).

Beberapa gurunya, yang disebutnya sebagai orang-orang yang membentuk pribadinya, adalah KH Mohammad Tamim (ayahnya sendiri), KH Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, KH Bakir, KH Hanad, KH Wasool Dja’far, KH Aslam Zainuddin, dan lain-lain. Terhadap Ki Bagus, Pak Djindar mempunyai kesan mendalam disamping kekagumannya terhadap wawasan keislaman. Juga, karena ketekunan dan kesungguhan Ki Bagus dalam menangani pengajian, terutama pengajian bagi para pensiun. Dari Ki Bagus, Pak Djindar menjadi banyak tahu tentang KH Ahmad Dahlan.

Aktivitas di Muhammadiyah diawali dari kepanduan Hizbul Wathan tingkat Athfal di Kauman, dalam kelompok Haiban Hadjid dengan Bapak Pawiro (1928-1936). Kemudian menjadi pimpinan Tarbiyatul Athfal bersama Haiban Hadjid, Djalis, Damanhuri dan Ilyas (1938-1941). Pak Djindar pernah menjadi Pimpinan Pemuda Muhammadiyah dengan ketua Yunus Anis.

Setamat dari Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1941), Pak Djindar mengamalkan ilmunya ke tengah masyarakat dengan menjadi guru. Bahasanyam Pak Djindar menyerahkan dirinya kepada Allah melalui aktivitas di persyarikatan Muhammadiyah. Jadi, dapat dipahami jika hampir semua aktivitasnya dilakukan dalam Muhammadiyah. Selain memberi pengajian di Kauman dan sekitarnya, Pak Djindar menjadi guru di Madrasah Muallimin dan PGA Negeri di Patangpuluhan Yogyakarta. Pada tahun 1951, oleh Departemen Agama Pak Djindar diangkat menjadi pegawai negeri sipil dengan NIP 150004610, dan ditugaskan di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

H.M. Djindar Tamimy, tercatat sebagai anggota Muhammadiyah dengan Nomor Baku Muhammadiyah (NBM) 1201, tanggal 30 April 1944. Beliau mulai aktif dalam kepemimpinan Muhammadiyah, pada tahun 1947 (dalam usia 24 tahun). Ketika H.M. Yunus Anis menjadi Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Pak Djindar diminta membantu menangani administrasi kesekretariatan. Bimbingan dan interaksi dengan H.M. Yunus Anis memberinya banyak pengalaman. Pak Djindar kemudian dipercaya menjadi Wakil Sekretaris PP Muhammadiyah selama 21 tahun (1947-1968). Sejak Muktamar ke-38 di Makassar (1971) sampai Muktamar ke-42 di Yogyakarta (1990), beliau selalu masuk dalam jajaran 13 pimpinan yang dipilih oleh muktamirin sebagai anggota tetap PP Muhammadiyah. Pada Muktamar ke-42 tahun 1990, Pak Djindar tidak bersedia lagi dipilih menjadi Anggota 13 dengan alasan kesehatan dan semakin berkurangnya kemampuan untuk mengantisipasi gerakan perkembangan Muhammadiyah.

Membantu sekaligus bekerjasama dengan para tokoh Muhammadiyah seperti, KH Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Buya AR Sutan Mansur, H.M. Yunus Anis, K.H.A. Badawi, K.H. Faqih Usman, K.H. AR Fachruddin, menjadikan beliau memahami dan menghayati betul apa maksud K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Pemahaman dan penghayatan atas ideologi Muhammadiyah, membuatnya banyak terlibat pada penyusunan rumusan-rumusan ideologis Persyarikatan, seperti rumusan Kepribadian, Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, serta Khittah Muhammadiyah. Dia juga terlibat dalam tim penyusun kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Karenanya, dia disebut sebagai “ideolog Muhammadiyah”. Karena itu pula, Pak Djindar banyak diminta untuk menjadi narasumber pada penataran Kemuhammadiyahan, terutama bagi para pimpinan. Beliau juga diminta menjadi dosen tamu di Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah dan PTM di Yogyakarta, Surakarta, Malang dan Surabaya.

Satu pemikiran Pak Djindar, “Pada dasarnya setiap manusia memiliki empat dimensi pergaulan: pergaulan dengan sesama manusia, pergaulan dengan lingkungan hidup, pergaulan dengan diri sendiri, dan pergaulan dengan Allah SWT. Landaskan empat dimensi itu di atas ajaran Islam, niscaya hasilnya akan memuaskan baik lahir maupun batin, dan membawa kita ke kehidupan yang istiqomah”.

Selain itu, beliau juga menggagas konsep ijtima’ qabla al fajr dalam ilmu Falak, yakni kriteria yang menetapkan jatuhnya awal bulan kamariah ketika ijtima' atau konjungsi terjadi sebelum fajar.

Setelah Muktamar ke-42 tahun 1990, dia ditetapkan sebagai penasehat PP Muhammadiyah. Walaupun beliau sudah tidak menjadi pengurus, dia tetap rajin datang ke kantor PP Muhammadiyah, mengajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, serta memberi pembekalan bagi pimpinan di daerah-daerah tentang Kemuhammadiyahan. Dalam keadaan sakit, beliau tetap aktif di Muhammadiyah, kecuali tugas-tugas yang keluar daerah. Salah seorang putranya pernah mengingatkan untuk mengurangi kegiatan dan beristirahat. Namun Pak Djindar, menjawab, “Katanya manusia itu diciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah. Saya ibadahnya bisanya seperti ini. Kalau saya dilarang untuk seperti ini, lantas saya disuruh beribadah yang seperti apa?” Perhatian Pak Djindar terhadap AMM dan kaum ibu sangat besar. Beliau pernah mengatakan, ”Muhammadiyah di masa datang, sangat ditentukan oleh angkatan mudanya. Bagaimana mungkin, kita mengharapkan Muhammadiyah maju dengan selamat, kalau sejak dini angkatan mudanya tidak pernah diperhatikan. Demikian pula, kalau warga Muhammadiyah berhasil membina kaum ibu, insya Allah akan dapat terbina keluarga yang sakinah dan Muhammadiyah akan menjadi kuat”.

Pak Djindar, termasuk sedikit orang Muhammadiyah yang istiqomah dalam ber-Muhammadiyah. Ketika ditawari untuk menjadi anggota DPR/GR, dia menolak dan memilih tetap aktif di Muhammadiyah. Pernah juga dibujuk oleh sebuah lembaga koperasi untuk menjadi pengurus. Tetapi, beliau lebih memilih Muhammadiyah. Pernah juga diminta menjadi pengurus sebuah amal usaha Muhammadiyah yang tergolong basah, lagi-lagi, tidak bersedia karena takut fitnah. Di masa perjuangan kemerdekaan, dia juga pernah ikut aktif di Lasykar Hizbullah Angkatan Perang Sabil (APS) bersama R.H. Haiban Hadjid, dibawah komando Bachron Edrees. Peran serta inilah kemudian yang menjadi dasar dan pertimbangan pemerintah untuk menganugerahkan gelar kehormatan sebagai anggota Legiun Veteran RI, dengan Nomor Veteran Pokok (NVP) 11001609.

Pak Djindar Tamimy wafat pada tanggal 29 April 1996 M, bertepatan dengan 11 Dzulhijjah 1416 H, di Yogyakarta. (Ls)