Mohammad Diponegoro

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
Muhammad Diponegoro

Muhammad Diponegoro adalah Seniman dan Budayawan Muhammadiyah; tidak banyak diantara ‘aktivis’ Muhammadiyah yang menyandang dan berkiprah dalam dunia yang satu ini. Diantara yang sedikit itu, Mohammad Diponegoro adalah salah satunya. Mohammad Diponegoro, terkenal disamping karya-karyanya, juga dikenal karena usahanya mempuitisasikan terjemahan Al-Qur’an. Syair lagu ciptaannya antara lain ‘Mars Aisyiyah’ dan “Bidan Prajurit Islam” sebuah gubahan untuk Sekolah Bidan PKU Muhammadiyah.


Mohammad Diponegoro lahir tanggal 28 Juni 1928 di Yogyakarta. Ia menyelesaikan pendidikannya di HIS Muhammadiyah Yogyakarta, tamat tahun 1942, SMP Muhammadiyah Yogyakarta (1954), SMA “B” Negeri Yogyakarta (1950). Setelah itu, melanjutkan ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, tetapi hanya setahun. Atas anjuran dokter, ia pindah ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Fakultas HESP jurusan Ekonomi. Pada tahun 1964, dia pernah belajar ke Nippon Bunka Gakuin tingkat Skokkyu ranking I dan dikirim ke Jepang selama 6 bulan. Tahun 1969, kembali ke Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Hubungan Internasional sampai tingkat III. Selain itu, dia juga mengikuti beberapa kursus. Menguasai bahasa Inggris, Arab, Jepang dan Belanda serta pernah menjadi santri di Pondok Modern Gontor, Ponorogo.

Pada masa revolusi kemerdekaan, dia turut aktif dalam bidang kemiliteran. Sekitar April sampai Juni 1945, dia mengikuti latihan kemiliteran di Cibarusa, Jawa Barat. Selain itu, pernah menjadi opsir TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dengan pangkat Letnan Dua. Menjabat dalam Staf Resimen Ontowiryo (TNI Masyarakat), dan memegang pimpinan Komandan Seksi sampai tahun 1947. Pada tahun 1951,dia menjadi guru tidak tetap dalam mata pelajaran bahasa Indoensia di SMP Dinas Penyempurnaan Pengetahuan dan Keahlian staf “A” Angkatan Darat di Bandung. Tahun 1955, ia melawat ke Amerika Serikat dalam rangka penelitian tentang Youth Activities dan Youth Leaders grant dari USIS. Sepulang dari Amerika, dia mengunjungi Inggris, Belanda,Perancis, Mesir, Pakistan, dan Singapura. Tahun 1959, dia bekerja di USIS sebagai Wakil Direktur Jefferson Library Yogyakarta. Tahun 1964, mengunjungi Jepang dan Philipina.

Di bidang jurnalistik, ia pernah duduk sebagai redaksi majalah Tunas, yang diterbitkan oleh PII (Pelajar Islam Indonesia) tahun 1947-1950. Kemudian, duduk sebagai redaksi majalah Media yang diterbitkan oleh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) tahun 1955. Dan redaksi majalah Misykah yang diterbitkan oleh HPSI (Himpunan Peminat Sastra Islam) tahun 1960. Pada bulan Juni 1965, ia duduk sebagai redaktur majalah Suara Muhammadiyah yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tahun 1975, dia diangkat menjadi Wakil Pemimpin Redaksi/Wakil Pemimpim Umum majalah itu. Dan pengasuh rubrik cerita pendek, sajak, opini, karikatur dan pembaca menulis. Sebagai pengasuh rubrik “English Column” ia menggunakan nama samara Ben Hashem. Disamping sebagai sastrawan dan wartawan, ia juga mempunyai bakat sebagai pelukis, fotografer dan sering juga menjadi juri deklamasi sajak, juri sayembara drama televisi dan radio. Selain itu, ia juga gemar bermain musik dan menguasai beberapa alat musik seperti piano, gitar dan biola. Mohammad Diponegoro pernah mencipta syair lagu, syair-syair ciptaannya antara lain ‘Mars Aisyiyah’ dan Bidan Prajurit Islam, sebuah gubahannya untuk Sekolah Bidan PKU Muhammadiyah. Namanya juga tercatat sebagai anggota BKKII (Badan Kongres Kebudayaan Islam Indonesia).

Mohammad Diponegoro, juga dikenal sebagai dramawan. Baik sebagai penulis cerita, sutradara, dan kadang-kadang juga sebagai pemain. Sebagai penulis cerita, ia menghasilkan sebuah karya asli berjudul ‘Iblis’, yakni sebuah lakon drama yang ditulisnya tahun 1961. Naskah itu pernah diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit di Jakarta tahun 1983. Naskah ‘Iblis’ pertamakali dipentaskan pada 25 September 1961 di Gedung Chung Hwa Chung Hui Yogyakarta. Hari pementasan ini kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Teater Muslim, yang semula bernama BKKIIY (Badan Koordinasi Kebudayaan Indonesia Yogyakarta). Ia menjadi ketuanya selama empat tahun (1961-1965). Sebuah sajaknya yang berjudul “Balada Nyawa Saringan”, sebelumnya dimuat dalam majalah Suara Muhammadiyah, sebagai cerita pendek, diterbitkan secara khusus dalam rangka memperingati ulang tahun Teater Muslim ke-18.

Mohammad Diponegoro, terkenal disamping karya-karyanya, juga dikenal karena usahanya mempuitisasikan terjemahan Al-Qur’an. Karya-karya puitisasi terjemahan Al-Qur’an yang dihasilkannya dimuat dalam majalah Gema Islam, Horison, Indonesia, Media dan Suara Muhammadiyah. Disamping karya-karyanya dalam cerita pendek, drama, sajak, dan puitisasi terjemahan Al-Qur’an, ia juga banyak menulis esai, baik asli maupun saduran. Esai-esainya dimuat dalam majalah Budaya, Budaya Jaya, Media dan Suara Muhammadiyah. Selain itu, dia juga telah menulis serangkaian tulisan tentang teknik penulisan cerita pendek dan artikel. Tulisan-tulisan itu secara berturut-turut dimuat di majalah Suara Muhammadiyah. Akan tetapi, tulisannya tentang teknik penulisan artikel hanya mencapai tiga tulisan. Salah satu buku karyanya yang cukup terkenal, adalah berjudul ‘Yuk, Nulis Cerpen, Yuk’ sudah diterbitkan beberapa kali. Novelnya yang berjudul ‘Siklus’ meraih hadiah penghargaan sayembara mengarang roman oleh panitia Tahun Buku Internasional tahun 1972, DKI Jakarta.

Karya-karyanya antara lain Manifestasi (kumpulan puisi bersama karya penyair lain, 1963), Siklus (novel, 1975), Kabar Wigati dari Kerajaan (puitisasi terjemahan AlQur’an, 1977), Iblis (drama, 1983), Surat pada Gubernur (drama), Duta Islam untuk Dunia Modern (bersama Ahmad Syafii Maarif, 1983), Percik-Percik Pemikiran Iqbal (1983), Siasat (1984), Yuk, Nulis Cerpen, Yuk (panduan penulisan cerpen,1985), Odah dan Cerita Lainnya (kumpulan cerpen, 1986). Pekabaran adalah karyanya yang menyajikan puitisasi terjemahan Juz ‘Amma. Mohammad Diponegoro wafat, pada 9 Mei 1982 dalam usia 54 tahun, di Yogyakarta.***(im)