Moechtar

From WikiMu
Revision as of 14:48, 5 November 2021 by Adim Paknala (talk | contribs) (←Membuat halaman berisi 'jmpl|Haji Moechtar Haji Moechtar adalah ketua pertama Hoofdbestuur Muhammadiyah Bahagian Taman Poestaka. Bahagian (sekarang Majelis Pustaka da...')
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Jump to navigation Jump to search
Haji Moechtar

Haji Moechtar adalah ketua pertama Hoofdbestuur Muhammadiyah Bahagian Taman Poestaka. Bahagian (sekarang Majelis Pustaka dan Informasi) ini dibentuk pada 17 Juni 1920, bersama pembentukan Hoofdbestuur Muhammadiyah Bahagian Sekolahan (ketua H.M. Hisyam), Bahagian Tabligh (ketua H. Fachrodin), dan Bahagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO, ketua H.M. Sudjak). Karenanya, beliau dapat dikatakan sebagai peletak dasar gerakan literasi di Muhammadiyah.

Ketika dilantik menjadi ketua, H.M. Mokhtar menyampaikan rencana kerjanya, “Hoofd Bestuur Muhammadiyah Bahagian Taman Pustaka akan bersungguh-sungguh berusaha menyiarkan agama Islam yang secara Muhammadiyah kepada umum, yaitu dengan selebaran cuma-cuma, atau dengan Majalah bulanan berkala, atau tengah bulanan baik yang dengan cuma cuma maupun dengan berlengganan; dan dengan buku agama Islam baik yang prodeo tanpa beli, maupun dijual yang sedapat mungkin dengan harga murah. Dan majalah-majalah dan buku-buku selebaran yang diterbitkan oleh Taman Pustaka, harus yang mengandung pelajaran dan pendidikan Islam, ditulis dengan tulisan dan bahasa yang dimengerti oleh yang dimaksud. Bahagian Taman Pustaka pada mulanya hendak membangun dan membina gedung TAMAN PUSTAKA untuk umum, dimana-mana tempat dipandang perlu”.

Sebelum Bahagian Taman Poestaka didirikan, gerakan Muhammadiyah hanya berskala lokal. Sejak berdiri hingga awal tahun 1920, organ-organ pergerakan masih sangat terbatas. Setelah terbentuk Bahagian Taman Poestaka, Muhammadiyah mulai merintis penerbitan buku-buku, brosur-brosur, dan surat kabar yang berfungsi sebagai organ pergerakan. Sejak memasuki tahun 1920, majalah bulanan Soewara Moehammadijah dikelola di bawah manajemen Bahagian Taman Poestaka. Majalah SM terbit pertama kali sejak tahun 1915, hal ini dibuktikan dengan adanya arsip majalah Soewara Moehammadijah nomor 2 tahun I/1915. Selain menerbitkan majalah, Muhammadiyah mulai merintis percetakan, yang mencetak buku-buku pelajaran yang dikonsumsi oleh sekolah-sekolah Muhammadiyah. Haji Fachrodin dan Haji Mochtar memiliki andil yang cukup besar dalam proses pendirian Percetakan Persatoean.

Kiprah Bahagian Taman Poestaka yang paling spektakuler adalah ketika berhasil mendirikan Bibliotheek Moehammadijah yang beralamatkan di Kauman nomor 44. Sebuah rumah milik KH Ahmad Dahlan disulap menjadi sebuah perpustakaan sederhana (tetapi cukup megah untuk zamannya). Rumah ini merupakan perpustakaan pribadi KH Ahmad Dahlan. Bibliotheek ini dikelola oleh pengurus komite Gedong Boekoe yang berada di bawah manajemen Bahagian Taman Poestaka.

Tampak dari luar, Gedong Boekoe tampak seperti rumah biasa, tetapi di atas pintu dipasang papan nama: BIBLIOTHEEK MOEHAMMADIJAH. Perpustakaan ini buka setiap hari kecuali hari Jum’at. Dalam sebuah photo yang diambil pada tahun 1927, tampak perpustakaan ini ramai dikunjungi para murid dan aktivis Muhammadiyah. Tidak hanya orang-orang dewasa, tetapi anak-anak pun tampak antusias meminjam buku.

Jika dilihat dari dalam Gedong Boekoe tampak mewah. Dimuat dalam Almanak Muhammadiyah 1931, sebuah foto menggambarkan ruang perpustakaan berisi beberapa almari terbuat dari kayu jati mengkilap. Dalam almari berjejer buku-buku dengan ukuran cukup tebal. Di tengah ruang terdapat sebuah meja dan dua buah kursi terbuat dari kayu. Di atas meja tampak beberapa pena dan stempel sebagai peralatan administrasi perpustakaan. Di pojok meja tampak sebuah bola dunia (globe).

Pada tahun 1923, “Pengoeroes Besar Muhammadijah” yang dipimpin oleh Haji Mochtar membentuk Comite Pendirian Roemah Kweekschool Islam (CPRKl). Comite atau panitia ini bertanggung jawab untuk menggalang dana sekitar f 88.000 untuk rencana pembangunan gedung Kweekcshool Islam. Kweekschool Muhammadiyah menetapkan model pendidikan baru, yaitu selama 6 tahun. Para siswa akan mendapat ijazah setelah lulus seperti pada pondok Muhammadiyah sebelumnya. Karena tidak mendapat pengakuan dari pemerintah Belanda, ijazah lulusan Kweekschool Muhammadiyah tidak diakui. Namun demikian, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi para siswa, karena mereka telah mendapat indoktrinasi bahwa mereka harus siap menjadi “anak panah” Muhammadiyah yang siap dilesatkan kapanpun dan dimanapun untuk memenuhi panggilan dakwah demi mengemban misi persyarikatan Muhammadiyah.

Sebagai generasi awal, H.M. Moechtar sangat aktif dalam Persyarikatan Muhammadiyah. Pada masa kepemimpinan K.H. Hisyam (1932-1936) beliau dipercaya sebagai Sekretaris HB Muhammadiyah. Pada masa ini diterbitkan hasil-hasil Kongres ke-15 sampai Kongres ke-23. (De/Ls/Mu)