Masjid Gedhe Kauman

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

Masjid ini disebut Masjid Gedhe Kauman, gedhe bermakna besar atau agung, terletak di kampung Kauman Ngupasan Yogyakarta. Masjid ini memiliki hubungan erat dengan KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah. Kiai Dahlan pernah menjabat sebagai khatib amin di masjid ini menggantikan ayahnya yang telah meninggal dunia. Di masjid ini, dulu para murid-murid KH. Ahmad Dahlan pernah menggoreskan garis shaf untuk meluruskan kiblat. Langkah ini sempat ditentang oleh KH. Khalil Kamaludiningrat, Hoofd Penghulu Kawedanan Pengulon.

Masjid yang ditetapkan sebagai cagar budaya ini didirikan pada tanggal 29 Mei 1773, dalam penanggalan Jawa, hari Ahad Wage, 6 Rabi’ulakhir tahun Alip 1699 dengan sengkalan gapura trus winayang jalma, tertulis pada prasasti di tembok serambi masjid. Pemrakarsa berdirinya masjid ini adalah Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiyai Penghulu Faqih Ibrahim Diponingrat. Arsitek perancangnya adalah Kiyai Wiryokusumo.

Arsitektur Masjid Gedhe Kauman terdiri dari bangunan utama (Liwan), serambi dan emperan. Tata ruang masjid terdiri ruang luar dan dalam. Tata luar berupa pagar pembatas seperti umumnya bangunan kerajaan di masa era Majapahit. Tata ruang dalam terdiri dari jagang (kolam keliling).

Sebuah prasasti tertempel di dinding serambi Masjid Gedhe Kauman, Isinya menerangkan bahwa “Pada hari Kamis Kliwon tanggal 20 Syawal tahun Jimawal 1701 Jawa = 1189 H = 1775 M dibangun serambi masjid dan Pagongan”. Hal ini ditandai dengan sengkalan “yitno windu resi tunggal”. Tunggal = 1, resi = 0, windu 7, yitno = 1. Sengkalan ini dibaca dari belakang sehingga ketemu tahun 1701 tahun Jawa.

Serambi masjid ini pernah roboh karena gempa pada tahun 1867. Gempa itu terjadi pada Senin Wage pukul 5 pagi 7 Sapar tahun Ehe ditandai dengan sengkalan rebahing gapura swara tunggal yang berarti tahun 1769 Jawa = 1284 H = 1867 M. Untuk membangun kembali atas perkenan Sri Sultan Hamengkubuwono VI memberikan bangunan dalem untuk serambi baru yang luasnya dua kali lipat dari serambi lama. Bangunan dalem ini sedianya akan digunakan untuk bangunan pagelaran.

Kompleks Masjid Besar seluas 16.000 m2 ini direnovasi pada tahun 1933 atas prakarsa Sri Sultan Hamengkubuwoo VIII, lantai serambi yang semula berupa batu andesit diganti dengan tegel kembangan. Kemudian pada tahun 1936 dilakukan penggantian lantai dasar masjid dari batu kali diganti dengan marmer dari Italia.

Masjid Gedhe Kauman menjadi simbol bahwa Sultan Ngayogyakarta selain sebagai penguasa pemerintahan (senapati ing ngalaga), juga berperan sebagai wakil Allah, (sayidin panatagama khalifatullah) di dunia dan menjadi pemimpin keagamaan (panatagama) di Kasultanan. (Ls/Ad)