MOESLIM ABDURRAHMAN

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

Pria kelahiran Lamongan, 8 Agustus 1948 ini adalah intelektual dan cendekiawan Muhammadiyah yang menggagas konsep Islam Transformatif. Lahir dari keluarga Muhammadiyah, priyayi, seniman, dan terdidik dalam lingkungan pesantren, anak sulung dari tiga bersaudara ini memulai pendidikan dasarnya di Kasugihan, Lamongan. Setamat dari Sekolah Rakyat, ia melanjutkan belajar di Pesantren Raudhatul ‘Ilmiyah, Kertosono yang diasuh oleh KH Salim Ahyar, murid generasi awal KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdhatul Ulama. Harapan orang tuanya mengirimnya ke pesantren adalah agar bisa bisa menjadi kiai di desanya.
Selama di pesantren, Moeslim tekun menelaah berbagai kitab untuk mewujudkan keinginan mimpi orang tuanya menjadi kiai desa. Seringkali ia menitip dibelikan kitab-kitab saat ada kerabatnya yang pergi haji. Suasana pasca-1965 yang memunculkan gerakan mahasiswa Islam ke permukaan, membuanya terobsesi menjadi seorang mahasiswa. Moeslim kemudian melanjutkan studi di Fakultas Ilmu Agama Jurusan Tarbiyah (UMFIAT) Muhammadiyah di Kediri yang saat itu menginduk pada Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Muhammadiyah Surakarta (kini menjadi Universitas Muhammadiyah Surakarta). Selama menjadi mahasiswa ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam.
Semangat belajarnya terus tumbuh. Pada 1984, Moeslim Abdurrahman diterima sebagai mahasiswa di University of Illions, US. Ia mendalami sosiologi agama di sana. Usai meraih master di Amerika pada 1986, ia kembali ke Indonesia dan mengaktifkan kembali lembaga penelitian bidang sosiologi agama yang telah ia rintis sebelumnya. Ia mulai berkarya melakukan riset dan menulis berbagai artikel. Ia pernah menjadi wartawan dan bekerja di Badan Litbang Departemen Agama RI (1977-1989). Pada pertengahan 1990an ia melanjutkan studi doktoralnya di kampus yang sama, University of Illions, US dalam bidang antropologi dan ia selesaikan pada 2000 dengan judul desertasi “On Hajj Tourism: In Search of Pity and Identity in The New Order Indonesia”.
Sekembali dari Amerika, Moeslim terus mengembangkan intelektualitasnya dengan aktif menulis di berbagai media massa nasional serta semakin mantab untuk memfokuskan aktivitasnya dalam kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Ia pernah menjadi Peneliti Senior “World Wide of Indonesian Ulama” kerjasama LIPI-USAID (1987-1991), mendirikan Asosiasi Peneliti Indonesia (API) pada 1987-1991, pimpinan harian surat kabar Pelita di Jakarta (1990-1992), Direktur Center for Religious and Philosophy Studies (LSAF) di Jakarta (1993), dan peneliti di Kantor Penelitian Agama dan Pembangunan Departemen Agama RI (1997-1990).
Di Muhammadiyah, Moeslim pernah memimpin Lembaga Pemberdayaan Buruh, Tani, dan Nelayan PP Muhammadiyah. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Penasehat Center for Strategic and International Studies (CSIS), Direktur Lembaga Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (LPIIS) dan Direktur Ma’arif Institute for Culture and Humanity. Karena kesibukannya, ia tidak memilih menjadi dosen tetap. Tercatat ia sebagai dosen tamu di program Studi Antropologi dan Ilmu Politik di Universitas Indonesia dan Pascasarjana Antropologi dan Filsafat di Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Karya intelektual Moeslim terekam dalam karya-karyanya sebagai berikut: Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan: Menuju Demokrasi dan Kesadaran Bernegara (Yogyakarta: Kanisius, 2009), Islam Yang Memihak (Yogyakarta: LKiS, 2005), Islam Sebagai Kritik Sosial (Jakarta: Erlangga, 2003), Semarak Islam, Semarak Demokrasi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), Islam Transformatif (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), Kang Towil dan Siti Marginal (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), Menafsirkan Islam dalam Tradisi dan Persoalan Umat (Surakarta: UMS,1990), Penelitian Agama di Indonesia (Jakarta: Badan Litbang Agama, 1986), dan Agama dalam Pembangunan Nasional (Jakarta: Pustaka Biru, 1981). Ia juga menjadi editor dalam beberapa karya, salah satunya Agama, Budaya dan Masyarakat (Jakarta: Badan Litbang Agama, 1985).
Moeslim juga aktif mementori anak-anak muda Muhammadiyah yang saat itu membentuk Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) untuk terus mengembangkan intelektualitasnya. Moeslim dianggap menjadi sosok yang mengayomi anak-anak muda Muhammadiyah di awal 2000an hingga ia tutup usia pada 6 Juli 2012.
Dalam sebuah obituary yang ditulis Pradana Boy ZTF, Moeslim dianggap telah menemukan kunci-kunci hermeneutika dalam membaca masyarakat Islam, seperti terminologi “dosa sosial”, “kemunkaran sosial”, dan “yatim sosial” yang diwariskan Moeslim Abdurrahman kepada dunia intelektual Indonesia. Ada dialektika menarik antara Moeslim Abdurrahman dan Kuntowijoyo di pertengahan 1980an saat keduanya mencoba merumuskan konsepsi keilmuan relasinya dengan keislaman. Moeslim Abdurrahman menawarkan Islam Transformatif sedangkan Kuntowijoyo menawarkan Ilmu Sosial Profetik. Kedua konsepsi ini juga menjadi warisan intelektual yang berharga bagi studi Islam dan ilmu sosial di Indonesia hingga kini. (Ghifari Yuristiadhi M. Makhasi)