Keluarga Sakinah

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

Keluarga Sakinah adalah istilah yang digunakan oleh ‘Aisyiyah untuk merujuk pada suatu keadaan keluarga yang menunjukkan kehidupan keluarga yang bahagia. Konsep Keluarga Sakinah merupakan bangunan keluarga yang prinsip-prinsipnya didasarkan kepada nilai-nilai Islam agar anggota di dalamnya mampu mencapai ketenteraman, kebahagiaan, dan kesejahteraan dunia dan akhirat.

Pengembangan konsep Keluarga Sakinah merupakan salah satu program utama Aisyiyah. Konsep tersebut direalisasikan lewat program pembinaan keluarga sakinah yang dirumuskan setiap lima tahun sekali dan disahkan dalam Sidang Muktamar Aisyiyah. Program pembinaan keluarga sakinah pertama kali disahkan pada Muktamar Aisyiyah ke-41 di Solo tahun 1985. Saat itu, Muktamar memberi amanat kepada Pimpinan Pusat Aisyiyah untuk menyusun buku tuntunan Pembinaan Keluarga Sakinah. Pada muktamar tersebut program pembinaan keluarga, yang sebelumnya secara implisit termasuk dalam pembinaan wanita secara umum, disahkan menjadi program yang bersifat eksplisit.

Dalam program Pembinaan Keluarga Sakinah, terdapat enam materi pokok yang menjadi inti program, yaitu: pembinaan kehidupan beragama, pembinaan pendidikan, pembinaan ekonomi, pembinaan kesehatan, pembinaan hubungan sosial inter dan antarkeluarga, dan pembinaan kesadaran lingkungan.

Bangunan Keluarga Sakinah yang di desain oleh Aisyiyah berdasarkan prinsip-prinsip nilai Islam dimaksudkan untuk dapat menjadi lahan persemaian dan pengembangan manusia takwa, yaitu manusia yang mempunyai kepribadian Muslim yang sempurna sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 77. Ada tiga karakteristik utama manusia takwa menurut ayat tersebut, yaitu manusia yang: (1) memiliki rasa kedekatan dan keterikatan kepada Allah SWT; (2) Memiliki rasa tanggung jawab kepada pembentukan akhlak diri pribadi; dan (3) Memilik rasa tanggung jawab pada terbentuknya kesejahteraan masyarakat. Karenanya, dari bangunan Keluarga Sakinah diharapkan akan muncul manusia-manusia yang mempunyai ghirah dan kemampuan untuk membangun masyarakat sejahtera yang diridhai Allah SWT.

Ada lima prinsip yang dikembangkan dalam konsep Keluarga Sakinah. Pertama, orientasi ilahiyah. Dalam keluarga adalah kesadaran bahwa semua proses dan keadaan kehidupan kekeluargaan harus berpusat pada Allah SWT. Semua pemilikan berasal dari Allah dan kembali pada Allah. Oleh karena itu, semua kegiatan harus dilakukan karena Allah SWT. (Qs. Al-Baqarah: 156).

Kedua, pola keluarga luas. Struktur dari Keluarga Sakinah adalah pola keluarga luas (extended family), yang disamping mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan anggota keluarga inti (ayah, ibu dan anak) juga mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan anggota kerabat dekat dari kedua pihak pasangan suami istri. Maka, anggota dari keluarga luas dapat terdiri dari ayah, ibu, anak, kakek, nenek, paman, dan bibi (Qs. Al-Baqarah: 156). Implementasi rasa tanggung jawab terhadap anggota keluarga luas dapat bersifat ekonomis, pendidikan, atau psikologis. Rasa tanggung jawab dalam pola keluarga luas juga tidak harus diwujudkan dalam bentuk tinggal bersama dalam satu rumah.

Ketiga, pola hubungan kesederajatan (dialogis). Pola dari hubungan antar anggota dalam Keluarga Sakinah bersifat kesederajatan, yaitu pola hubungan antar manusia yang didasarkan pada sikap egaliter. Hubungan ini berdasarkan kepada prinsip bahwa semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan adalah sama, yakni sama-sama sebagai makhluk Allah, yang membedakannya adalah takwa. Karena itu, tidak boleh diskriminatif berdasarkan pada jenis kelamin, sebab akan menimbulkan kecemburuan diantara anggota keluarga. Semua diberi kesempatan yang sama, baik dalam mengenyam pendidikan maupun berkarir, sehingga dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal.

Keempat, menjadikan mawaddah wa rahmah sebagai perekat tali-temali yang menjadi pengikat perkawinan. Keberadaan mawaddah wa rahmah dalam suatu keluarga merupakan perekat yang mendorong tumbuhnya rasa saling mencintai, membutuhkan, melindungi, dan menghormati antar anggota keluarga, sehingga terbentuk suasana aman, tenteram, dan damai dalam keluarga. Kelima, fungsi pemenuhan kebutuhan hidup sejahtera dunia akhirat. Keluarga Sakinah adalah hubungan keluarga yang didesain untuk mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok keberlangsungan dan kesejahteraan hidup dunia akhirat.

Melalui masyarakat sejahtera akan tercapai tujuan kehidupan manusia di bumi, yaitu untuk selalu beribadah kepada Allah dan mengusahakan kesejahteraan umat manusia. Usaha mewujudkan masyarakat sejahtera dapat tercapai apabila setiap keluarga merupakan keluarga sakinah. Keluarga sebagai unsur terkecil masyarakat berperan penting dalam mewujudkan masyarakat sejahtera. Sebagai lembaga yang, mempunyai persyaratan yang menyangkut kehidupan dunia akhirat, keluarga sakinah akan sanggup melahirkan manusia takwa yang mampu bertanggungjawab atas kesejahteraan manusia lain dan sanggup mewujudkan terbentuknya masyarakat sejahtera. Dengan demikian keluarga sakinah memiliki peran ganda, yaitu disamping dapat melahirkan manusia takwa, keluarga sakinah dalam jumlah besar akan melahirkan masyarakat sejahtera.

Guna mendukung kegiatan program Pembinaan Keluarga Sakinah, ‘Aisyiyah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, baik lokal maupun internasional. Kerjasama dengan lembaga internasional pertama kali dilakukan dengan UNICEF pada tahun 1986-1990, lewat program Kesehatan Ibu dan Kelangsungan Hidup Anak (KIKHA), yang merupakan kerjasama ‘Aisyiyah dan UNICEF yang diprakarsai Departemen Agama. Periode berikutnya dari program ini dilaksanakan tahun 1998-2000 dengan program Kelangsungan Hidup Perkembangan dan Perlindungan Ibu dan Anak (KHPPIA). Program ini bersifat terpadu yang melibatkan pihak ‘Aisyiyah, Muhammadiyah, dan aparat pemerintah etempat. Tujuannya agar dapat menggapai sasaran anggota ‘Aisyiyah, Muhammadiyah, dan angkatan muda.

Sejak tahun 1990, Aisyiyah juga menjalin kerjasama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, yang mensinergikan Program Pembinaan Keluarga Sakinah dengan Pelaksanaan Keluarga Berencana. Pelaksanaan program ini melibatkan pihak ‘Aisyiyah tingkat pusat, wilayah, dan daerah. Serta pihak BKKBN tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Sasaran kegiatannya adalah mubalighat ‘Aisyiyah dan mubaligh Muhammadiyah sebagi motivator. (Im)