Kauman

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

Kampung Kauman Yogyakarta menjadi tempat kediaman abdi dalem pamethakan atau penghulu keraton yakni pegawai keraton di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang mengurusi bidang keagamaan Islam. Abdi dalem pamethakan atau putih, terdiri dari Suronoto yang bertugas mengurus kegiatan keagamaan; KH. Aji Selusin berperan mewakili raja untuk berhaji (pada kenyataannya tidak semua pernah berhaji, sebutan kaji lebih dekat dilekatkan karena mereka memiliki kemampuan mengajari ngaji); Ketib, yang berjumlah sembilan orang, bertugas memberikan khutbah; Barjamangah terdiri dari 40 orang yang berlaku sebagai makmum dalam shalat Jumat; Mudin, atau muadzin bertugas mengumandangkan adzan; Merbut atau sekarang dikenal sebagai Marbot memiliki kewajiban mengurusi bagian kerumah-tanggaan masjid.

Para abdi dalem ini diberi tanah yang disebut tanah gaduhan dan rumah untuk ditinggali. Pada tahun 1926, status tanah tersebut oleh Kasultanan Yogyakarta diubah menjadi tanah handarbe (tanah hak milik). Sering juga disebut tanah Paringan Dalem, karena statusnya hak milik, tanah tersebut bisa diwariskan. Sedangkan tanah Pengulon statusnya tidak berubah, tetap menjadi milik Kasultanan Yogyakarta.

Dari kajian antropologi, masyarakat Kauman termasuk masyarakat endogami yang melaksanakan pernikahan dengan orang sekampung. Sehingga hubungan kekerabatan antar mereka terjalin lebih erat melalui ikatan keagamaan serta jalur pernikahan. Kemudian terbentuklah masyarakat di sekitar Masjid Gedhe yang disebut kauman. Tidak heran jika kemudian muncul pameo “hampir seluruh warga Kauman bersaudara”

Nama kampung Kauman sebenarnya lazim ditemukan di berbagai tempat, terutama pada kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Karena kerajaan-kerajaan tersebut biasanya meletakkan tiga bagian tak terpisahkan dari istana, yakni masjid, pasar dan alun-alun. Kata Kauman sendiri berasal dari Bahasa Arab, qoimmuddin (qoim dan ad-din) yang bermakna penegak agama. Dalam Bahasa Jawa diistilahkan menjadi Kaum. Sering disebut juga Pakauman. Imbuhan kata Pa dalam Bahasa Jawa berarti tempat. Sehingga Pakauman bermakna tempat bagi para kaum.

Secara geografis Kauman berada di bagian utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya di sebelah barat Alun-alun Utara. Sebelah utara dibatasi oleh Jalan KH Ahmad Dahlan, sebelah selatan dibatasi Jalan Kauman, sebelah timur dibatasi Jalan Pekapalanan dan Jalan Trikora, sedangkan sebelah barat dibatasi Jalan Nyai Ahmad Dahlan atau dahulu dikenal dengan Jalan Gerjen.

Secara administratif Kampung Kauman berada di wilayah kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, Kampung Kauman memiliki luas wilayah sekitar 1 km2 yang terbagi dalam empat rukun warga yakni RW X, XI, XII dan XIII.

Menurut Adaby Darban, awalnya masyarakat Kauman mengandalkan gaji sebagai abdi dalem sebagai sumber utama penghasilan. Kemudian pada awal abad ke 20, masyarakat Kauman merintis usaha batik, baik sebagai pengrajin maupun sebagai pedagang. KH. Ahmad Dahlan termasuk salah satu di antara para pedagang batik yang sukses dan mampu memasarkan batik hingga ke Jakarta, Surabaya dan Medan. Industri batik Kauman seiring waktu surut dengan serbuan tekstil dari Cina.

Dari segi pendidikan, masyarakat Kauman mengandalkan pesantren sebagai basis pendidikan putra-putrinya. Mereka mengaji di masjid atau langgar yang ada di Kauman. Meskipun begitu, seiring perkembangan waktu, tidak sedikit warga Kauman yang mondok hingga ke Tebu Ireng Jombang, Termas Pacitan, Tambak Beras Jombang dan Gontor Ponorogo, selain mondok di pesantren-pesantren sekitar Yogyakarta seperti di Bantul dan Sleman.

Sejak lahirnya Muhammadiyah pada tahun 1912, KH. Ahmad Dahlan melakukan beberapa perubahan dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan mengadopsi beberapa hal dari sekolah yang dikelola Belanda seperti penggunaan meja dan kursi, karakteristik pendidikan di Kauman beralih kepada model sekolah umum dengan tetap mempertahankan agama Islam sebagai kurikulum utama. Sekolah Kiyai merupakan sekolah pertama yang didirikan, kemudian disahkan menjadi Volksschool Muhammadiyah Kauman pada 1916.

Kauman tidak hanya memiliki posisi penting dalam perkembangan Kasultanan Yogyakarta. Tetapi juga mempuyai peran besar dalam pembangunan bidang keagamaan di Indonesia. Dengan lahirnya Muhammadiyah, pola pikir dalam umat Islam di Indonesia menjadi lebih terbuka dan moderat. Gerakan modernisasi (tajdid) yang dilakukan Muhammadiyah mendorong umat Islam melakukan pembaruan pemikiran untuk mencari solusi atas persoalan yang dihadapi umat Islam dan bangsa Indonesia dengan tetap merujuk kepada Al-Qur’an dan As Sunnah.

Sebagai tempat lahirnya Muhammadiyah, beberapa putra Kauman pernah pula dipercaya memimpin Muhammadiyah, antara lain KH. Ahmad Dahlan, KH. Ibrahim, Ki Bagoes Hadikoesoema, KH. Ahmad Badawi, K.H. M. Yunus Anies, dan KH. Ahmad Azhar Basyir. Sedangkan putri Kauman yang pernah memimpin Aisyiah antara lain: Siti Bariyah (Ketua Aisyiah pertama), Siti Munjiyah, Siti Hayinah, Siti Badilah, Siti Aisyah Hilal, Prof. Siti Baroroh Baried, dan Prof. Siti Chamamah Soeratno.

Dalam peran kebangsaan, Kauman tercatat menjadi basis perlawanan terhadap penjajah baik secara ideologis maupun fisik. Dalam monumen Syuhada fi Sabilillah tercantum 24 nama penduduk Kauman yang gugur dalam perlawanan terhadap penjajah pada rentang tahun 1945-1949. Sejumlah tokoh Pahlawan Nasional dan tokoh penting lahir dari Kampung Kauman. Setidaknya ada empat nama yang sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional: KH. Ahmad Dahlan, Nyai Ahmad Dahlan, Haji Fahroedin dan Ki Bagus Hadikusuma. [Et]