Gusti Abdul Muis

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

K.H. Gusti Abdul Muis, tokoh Muhammadiyah di Kalimantan Selatan. Beliau dilahirkan pada 19 April 1919 di Samarinda Kalimantan Timur, putera dari H. Gusti Abdul Syukur yang berasal dari keturunan Pangeran Antasari.

Di Kalimantan Selatan, salah seorang tokoh pemikir muslim yang aktif adalah H.Gusti Abdul Muis. Semasa hidupnya dia mendakwahkan ajaran Islam kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya yang berada di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya. Diantara materi yang biasa disampaikannya adalah Tauhid, Tafsir dan tasawuf.

Pada tahun 1932 ia bergabung dengan Muhammadiyah hingga kemudian dipercaya untuk menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Selatan hingga akhir hayatnya (1972-1992). K.H. Gusti Abdul Muis mulai pendidikannya di Sekolah Rakyat (tamat 1931), melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Asy-Safi’iyah di Samarinda. Setelah tamat Darussalam Martapura (Aliyah), kemudian meneruskan pendidikannya di Kulliyatul Mu’alimin Ponpes Gontor Ponorogo dan Pesantren Jamsaren Solo, sempat kuliah Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada (1947-1948). Dia juga pernah menjabat sebagai pimpinan Laskar Pusat Pertahanan Kalimantan. Beliau merintis berdirinya Sekolah Wusta Zu’ama Muhammadiyah di Karang Intan Martapura. Menjadi dekan Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Banjarmasin, dosen luar biasa dan anggota Dewan Kurator IAIN Antasari Banjarmasin, menjadi pengasuh Akademi Kulliyatul Mubalighin dan pengajar Uniska Banjarmasin.

Tahun 1945, K.H. Gusti Abdul Muis ditunjuk menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Tahun 1946 menjabat sebagai staf Dewan Kelasykaran pusat di Jakarta. Tahun 1950 terpilih sebagai Ketua Pucuk Pimpinan Ikatan Perjuangan Kalimantan (IPK) di Jakarta. Selain itu, pernah menjadi Pengurus Besar Gerakan Pemuda Islam Indonesia dan Pengurus Besar Serikat Buruh (SBII) di Jakarta. Pada tahun 1950 terpilih sebagai anggota Parlemen RI di Yogyakarta, menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) dan anggota DPR-RI tahun 1950-1960. K.H. Gusti Abdul Muis sangat akrab dan dekat dengan tokoh Dr. Muhammad Natsir, seorang Perdana Menteri RI dan Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia. Bila Abdul Muis ke Jakarta pasti mengunjungi Muhammad Natsir, demikian juga bila Muhammad Natsir ke Banjarmasin, pasti akan mencari K.H. Gusti Abdul Muis. Saking akrabnya keduanya sudah seperti saudara sendiri.

Dalam kehidupannya sehari-hari, ulama yang sangat dihormati dan punya kharisma ini ternyata sangat sederhana dan tawadhu’ atau rendah hati. Tahun 1987 ketika beliau sakit, Drs. H. Lukman Harun, PP Muhammadiyah, menyampaikan agar K.H. Abdul Muis bersedia diobati di Jakarta dengan biaya dari PP Muhammadiyah. Namun, dengan rendah hati menolak. Padahal waktu itu beliau sering bolak-balik masuk rumah sakit karena penyakit jantung dan hipertensi yang dideritanya.

K.H. Gusti Abdul Muis aktif dalam dunia tulis-menulis. Bukunya yang telah terbit antara lain: Mengenal Taswuf, Tauhid dan Ma’rifat, Iman dan Bahagia, Insan, Assyifaah, Tawassul wal-Wasilah, Bukratul Washilah, Sejarah Masuknya Islam di Kalimantan, Pengantar Ulumul Qur’an serta Amalan Pagi dan Petang (diterbitkan oleh pengurus Masjid Ar-Rahman). Semasa hidupnya, K.H. Gusti Abdul Muis menjadi penulis tetap buletin Kulliyatul Mubalighin, pada rubrik Tauhid.

K.H. Gusti Abdul Muis berpendapat, bahwa fungsi akal ialah berpikir dan merenung. Bila dua kekuatan ini tidak ada, berarti batallah amal dan fungsi akal itu. Islam menghendaki akal dapat difungsikan secara maksimal, dan berpikir itu termasuk ibadah. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada surat Yunus ayat 101 yang artinya: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi”.

Daerah berpikir yang diizinkan adalah wilayah yang akal mampu mencapainya. Islam memanggil akal supaya mempraktikkan dan merenung segala sesuatu yang dicipta Allah baik yang ada di langit, di bumi, di dalam diri manusia, maupun sosial kemasyarakatan. Islam tidak pernah memberi kelonggaran memikirkan zat Allah, karena zat Allah berada di luar kemampuan akal. (Gusti Abdul Muis, 1988; 31-37), merujuk sabda Nabi Saw.: “Pikirkanlah tentang makhluk-makhluk Allah, jangan sekali-kali kamu memikirkan tentang Allah, maka sesungguhnya kamu tidak mempunyai kesanggupan sedikitpun”. (H.R. Abi Naim).

Gusti Abdul Muis juga berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Pilihan untuk berbuat baik dan buruk adalah berdasarkan pilihan bebas manusia itu sendiri, bukan ditentukan oleh Tuhan. Jadi, setiap manusia akan menerima balasan atas segala perbuatannya di sisi Allah, itulah Sunatullah.

K.H. Gusti Abdul Muis wafat pada tanggal 27 September 1992 di Banjarmasin dalam usia 73 tahun, meninggalkan 9 orang anak dan 13 cucu, jenazahnya dimakamkan di Kuburan Muslimin Banjarmasin. (Ad)