Farid Ma’ruf

From WikiMu
Revision as of 21:24, 21 September 2021 by Spammer (talk | contribs) (←Membuat halaman berisi '(25 Maret 1908-6 Agustus 1976) Jenderal Mayor Prof. K.H. Farid Ma’ruf adalah putra Kauman Yogyakarta yang sejak kecil telah mendapatkan pendidikan agama Islam yang...')
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)
Jump to navigation Jump to search

(25 Maret 1908-6 Agustus 1976)

Jenderal Mayor Prof. K.H. Farid Ma’ruf adalah putra Kauman Yogyakarta yang sejak kecil telah mendapatkan pendidikan agama Islam yang kuat. Beliau pernah belajar di Universitas Al Azhar Kairo Mesir lulus 1932. Sebagai akademisi beliau pernah mengajar di Universitas Gadjah Mada, pernah menjadi guru besar luar biasa di IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, dan Akademi Tabligh (Fakultas Ilmu Agama Jurusan Da’wah) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan pernah menjadi Dekan FIP Muhammadiyah (Universitas Ahmad Dahlan) Yogyakarta.

Pada tahun 1933, setamat pendidikan di Mesir, beliau melakukan lawatan ke Palestina, Libanon, Syria, Irak, Pakistan dan India dan Malaya (Malaysia) selama setengah tahun. Beliau menemui para tokoh Islam di masing-masing negara. Ketika berkunjung ke Lahore, beliau menemui Muhammad Iqbal, seorang pujangga dan pemikir Islam yang terkenal. Dalam kesempatan itu, Iqbal menitip pesan kepada umat Islam Indonesia yang dicatat oleh Farid Ma‘ruf yang diterjemahkan sebagai berikut: “Saya amat bergembira ketika mengetahui dari Tuan Muhammad Farid dari Indonesia yang sedang kembali dari Mesir ke kampung halamannya di Indonesia, bahwa kaum muslimin Indonesia telah sadar akan desakan zaman dan tengah bersiap-siap memperjuangkan kemerdekaan bagi tanah airnya. Tuan Muhammad Farid ingin agar saya menyampaikan pesan dengan perantaraan dia kepada saudara-saudara saya di Indonesia. Maka, inilah pesan saya kepada mereka semua apa yang telah semua apa yang telah saya pesankan kepada rakyat Mesir dua tahun yang lalu; Pada masa kegoncangan rohaniah seperti sekarang ini, tetaplah setia berpegang kepada tuntunan Rasulullah SAW dan kepada ajaran serta cita-citanya yang tercermin dalam seluruh kehidupannya. Janganlah dilupakan bahwa kaum Muslimin se-dunia memikul tugas suci, yaitu untuk mempersatukan tidak hanya semua suku dan bangsa, tetapi juga segala macam agama yang dianut manusia. Agama Islam tidak akan memberikan tujuan hidup lain, karena Islam itu sendiri adalah tujuan hidup”.

Pada tahun 1933, Pak Farid duduk sebagai anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah sampai tahun 1969. Pada tahun 1934 telah menjadi guru sekolah Mu‘alimin Muhammadiyah Yogyakarta, mengajar mata pelajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris. Pak Farid menjadi anggota Pengurus Besar Partai Islam Indonesia (PII) bersama dengan KH. Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Mudzakkir, Abdul Hamid BKN, dan Mr. Ahmad Kasmat. Partai ini dibentuk di Surakarta pada tanggal 4 Desember 1938, anggota-anggota pimpinannya berasal dari pimpinan Partai Islam Indonesia (PARII) 1932, pimpinan Muhammadiyah dan pimpinan Perserikatan Pemuda Islam.

Pada tahun 1939 selama tiga bulan beliau melawat ke Jepang sebagai delegasi MIAI (Majelis Islam A‘la Indonesia) bersama Mr. A. Kasmat, S.A. Alamudi, H. Abdul Kahar Mudzakkir dan H. Mahfudh. Setelah kembali ke Indonesia dia aktif dalam berbagai aktivitas dan kehidupan beliau tidak lepas dari kegiatan Muhammadiyah. Pada bulan Desember 1941 ditangkap oleh Pemerintah Belanda bersama pejuang-pejuang lain dan dipenjara selama tiga bulan, karena dituduh telah bersekutu dengan Jepang untuk menggulingkan Pemerintahan Belanda.

Pada tahun 1944 beliau pernah menjadi Wakil Ketua Partai Masyumi Jakarta. Partai ini sebenarnya merupakan gabungan dari partai dan organisasi Islam seperti Partai Sarekat Islam Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. Masyumi merupakan kelanjutan dari MIAI (Majelis Islam A‘la Indonesia) yang didirikan tahun 1937. Pada tahun 1945 beliau ditugaskan di Yogyakarta dan duduk sebagai anggota Pimpinan revolusi menghadapi Jepang untuk mempertahankan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam karir militer, Farid Ma‘ruf mendapatkan pangkat Jenderal Mayor (sekarang Mayor Jenderal) pada bulan Maret 1946 , ditugaskan sebagai staf PEPOLIT Pertahanan RI di Yogyakarta. Sejak 1950 Pak Farid menjadi dosen/guru besar luar biasa di UGM, sampai tahun 1966. Beliau diangkat menjadi dosen/guru besar luar biasa di PTAIN/IAIN Yogyakarta 1961-1963. Sejak tanggal 18 Januari 1956 diangkat sebagai Guru Besar Akademi Tabligh (Fakultas Ilmu Agama-Da‘wah/FIAD) Muhammadiyah dan pernah menjadi Rektor IKIP Muhammadiyah Yogyakarta (sekarang Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta) sejak tanggal 18 November 1960.

Bersama Dr. Moch. Hatta (Wakil Presiden RI) pada 1952 beliau melakukan lawatan ke Mekkah, Kairo, Libanon, Syria dan Pakistan. Selanjutnya, bersama Dr. Roeslan Abdulgani beliau melawat ke Italia, Vatikan, Yugoslavia, Hongaria, Rumania, dan Uni Sovyet. Pada tahun 1962 beliau ke Mekkah, Beirut, Bangkok dan Singapura. Bersama Prof. Dr. A. Mukti Ali (Menteri Agama RI) tahun 1972 melakukan ibadah haji sambil melakukan lawatan ke Saudi Arabia, Syria, Irak, dan Libanon.

Penasehat PP Muhammadiyah ini, karir dalam pemerintahan dimulai dari sebagai anggota Dewan Pemerintah Daerah tahun 1946 dan Kepala Jawatan Sosial. Beliau pernah sebagai anggota Pertimbangan Politik Pertahanan RI pada tahun 1948-1949. Lalu ia dipercaya sebagai Kepala Jawatan Agama Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah itu, beliau menduduki posisi penting dalam Pemerintahan antara lain sebagai Menteri Urusan Haji, Direktur Jenderal Urusan Haji, anggota Dewan Pertimbangan Agung, anggota MPRS, dan anggota Pimpinan Angkatan 45 di Yogyakarta. Disamping itu, beliau juga sebagai jurnalis dengan posisi sebagai Pemimpin majalah Seruan Al-Azhar, Koordinator Harian Adil di Solo. Ketika menjadi mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo beliau menjadi wartawan Al Balagh.

Sekalipun banyak kesibukan, Pak Farid masih menyempatkan diri untuk menulis buku antara lain: Sejarah Siti ‘Aisyiyah; Melawat ke Jepang; Ethika; Ilmu Da‘wah; Diklat Bahasa Arab; Analisa Akhlaq dalam Perkembangan Muhammadiyah; Asuransi Jiwa Menurut Pandangan Islam; Penjelasan tentang Maksud dan Tujuan Muhammadiyah. Tanggal 6 Agustus 1976, beliau pulang ke rahmatullah di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ), meninggalkan seorang isteri dan 9 orang anak (4 laki-laki dan 5 wanita). Jenazah beliau dimakamkan di Taman Makam Tanah Kusir Jakarta.

Pak Farid Ma’ruf memperoleh penghargaan Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kesatu dan Kedua dan Satyalencana Karya Satya Klas II. (Ls)