Erwin Santosa

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

dr. Erwin Santosa, Sp.A., M.Kes. Lahir di Yogyakarta, 16 Juni 1951dan menyelesaikan sekolah kedokteran di Universitas Gajah Mada tahun 1078, dr. Erwin Santosa adalah sosok yang senatiasa mengabdikan sebagaian besar hidupnya untuk dunia layanan kesehatan dan sekaligus dunia pendidikan. Pada tahun 1980, walaupun saat itu beliau sedang bertugas sebagai kepala puskesmas, beliau menyempatkan diri untuk aktif di dunia ppendidikan dengan mengelola sekolah Muhamamdiyah Sribawono di Lampung Tengah.

Setelah beliau menyelesiakan pendidikan spesialis anak tahun 1987, dan sempat praktik di Rumah Sakit Umum Daerah Sleman, beliau memutuskan untuk pensiun dini dari statusnya sebagai pegawai negeri dan menerima tugas dari Persyarikatan Muhammadiyah sebagai Direktur Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada periode 1993-1999. Dr. Erwin melengkapi tugas tersebut dengan menjadi salah satu inisiator berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang merupakan Fakultas Kedokteran Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang pertama. Hal tersebut menujukan visi beliau tentang pentingnya Muhammadiyah mengembangkan oendiidkan kesehatan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari layanan kesehatan yang telah ada dan berkembang pesat.

Beliau menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran UMY selama 3 periode (1999 – 2011). Selama beliau menjabat sebagai dekan, beliau melahirkan berbagai Program Studi (Prodi) di lingkunagn UMY, antara lain Prodi Keperawatan, Prodi Kedokteran Gigi, Prodi Farmasi, dan Prodi S2 Manajemen Rumah Sakit UMY. Dr. Erwin berusaha mensinergikan Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan kesehatan dan bidang pelayanan kesehatan. Dalam upaya itu, beliau membentuk Forum Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan Muhammadiyah (FPKKM) pada tahun 2007, yang dalam perkembangannya menjadi Asosiasi Pendidikan Kedokteran dan Kesehatan Muhammadiyah (APKKM). Pertemuan FPKKM pertama dilakukan di Yogyakarta dengan tuan Rumah Fakultas Kedokteran UMY. Rekomendasi dari pertemuan pertama tersebut adalah 1) kerja sama yang harmonis antara Fakultas Kedokteran (FK) dan Rumah Sakit Muhammadiyah/Aisyiyah (RSMA), 2) RSMA mempersiapkan diri menjadi rumah sakit pendidikan, 3)Pelibatan prodi kesehatan (selain kedokteran) dalam FPKKM, 4) Mmengupayakan RSMA menjadi wahana pendidikan kedokteran dan kesehatan.

Rekomendasi tersebut diwujudkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat dengan para Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang mempunyai prodi kesehatan tentang program utilisasi Sumber Daya Manusia bidang kesehatan pada amal usaha kesehatan Muhammadiyah. Dari hasil pertemuan pertama tersebut, terlahir kesepakatan bersama antara Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) dengan Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang penyiapan RSMA menjadi Rumah Sakit Pendidikan Utama bagi Fakultas Kedokteran Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Tahun 2011, dr. Erwin sebagai ketua APKKM yang juga sekaligus menjabat sebagai ketua Knsorsium Rumah Sakit Muhamadiyah/Aisyiyah (KORSMA)berupaya membangun komunikasi, konsolidasi dan penyamaan persepsi antara Pimpinan Perguruan Tinggi Muhamaadiyah yang memiliki Fakultas Kedokteran dan Pimpinan Rumah Sakit Muhammadiyah/Aisyiyah, serta berbagai stakeholder lainnya. Setelah inisiasi dan segala upaya beliau tersebut, kemudian Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerbitkan surat yang mensinergikan fakultas kedokteran dengan RSMA, yaitu 1) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta, 2) Universitas Muhammadiyah Malang dengan Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan, 3) Universitas Muhammadiyah Jakarta dengan Rumah Sakit Islam Jakarta, 4) Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta, 5) Universitas Muhammadiyah Semarang dengan Rumah Sakit Roemani, 6) Universitas Muhammadiyah Makassar dengan Rumah Sakit Sitti Khajidah 1 Makassar, 7) Universitas Muhammadiyah Palembang dengan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, 8) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara dengan Rumah Sakit Muhammadiyah Medan dan 9) Unviersitas Muhammadiyah Purwokerto dengan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong.

Pasca Muktamar Muhammadiyah tahun 2010, dr. Erwin ditugaskan sebagai Wakil Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum PP. Muhammadiyah, kemudian menjadi ketua pada tahun 2015. Beliau sering melakukan perjalanan silaturahmi ke berbagai RSMA baik di pulau Jawa mapun di pulau – pulau lain yang telah memiliki RSMA. Selama perjalanan tersebut, salah satu problematika yang dilihat oleh dr.Erwin adalah adanya kesulitan bagi para dokter di RSMA dalam memenuhi kewajiban mengikuti pelatihan Advance Cardiac Life Support (ACLS), karena antrian yang cukup panjang. Hal tersebut mempengaruhi pemenuhan stadar kapasitas dokter di Instaklasi gawat darurat RSMA. Melalaui dr, Erwin menginisiasi suatu kerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiologi Indonesia (PERKI), untuk penyelenggaraan pelatihan bersama dengan APKKM. Sejak tahun 2013, APKKM mendapatkan kerja sama dengan PERKI untuk penyelenggaraan pelatihan ACLS 4-5 kali dalam satu tahun, dengan 25-60 peserta tiap penyelenggaraan.

Pada tahun 2010, Pemerintah menerapkan kebijakan tentang kewajiban internship dokter (penempatan dokter lulusan baru untuk pemahiran). Dr. Erwin yang pernah menjabat sebagai Pengurus/Bendahara AIPKI (Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia), Surveyor KARS (Komite Akreditasi Rumah Sakit) dan Anggota Tim Komisi Pengarah RS Pendidikan PTN Dirjen Dikti Kemendikbud / Kemenristek Dikti memandang hal itu sebagai peluang untuk memenuhi kebutuhan dokter umum di RSMA. Beliau melakukan lobby dengan Komite Internship Dokter Indonesia (KIDI), untuk menawarkan RSMA sebagai wahana internship. Melalui program ini RSMA akan mendapatkan penempatan dokter baru, yang telah mendapatkan honor dari pemerintah. Walaupun pada saat itu, KIDI tidak mempunyai pendanaan untuk pelatihan bagi RS Swasta sebagai wahana internship, beliau menyanggupi bahwa untuk RSMA di wilayah DIY dan Jawa Tengah akan dibiayai oleh UMY dan wilayah Jawa Timur akan dibiayai oleh UMM. Dengan berjalannya program ini, beliau berharap lulusan FK PTM bisa mendapatkan penempatan internship di RSMA. Hingga saat ini, program internship dokter terus berjalan di RSMA.

Hal lain yang menjadi keprihatninan dr. Erwin adalah kekurangan tenaga dokter di Klinik Muhammadiyah-Aisyiyah. Hal tersebut menumbuhkan ide tentang perlunya sinergi antara Perguruan Tinggi sebagai pihak yang meluluskan dokter, Klinik yang menyelenggarakan layanan kesehatan dan Rumah Sakit yang berperan sebagai pembina klinik. Program sinergi tersebut kemudian dinamai Sister Hospital. Dalam skema tersebut, Perguruan Tinggi memberikan beasiswa kepoada mahasiswa kedokteran dangan ikatan kerja berupa penugasa di Klinik Muhammadiyah-Aisyiyah. Sementara RSMA melakukan pembinaan kepada klinik dan tenaga dokter yang ditempatkan di klinik tersebut. Program ini diawali dengan kerjasama Klinik Muhammadiyah-Aisyiyah dengan Fakultas Kedokteran UMY. Fakultas Kedokteran UMY menyediakan beasiswa bagi mahasiswa tahap profesi, dengan kewajiban mengabdi di Klinik. Dalam perjalanannya, pada tahun 2011, mengembangkan program beasiswa penuh bagi calon mahasiswa yang berasal dari panti asuhan atau pondok pesantren muhammadiyah, yang secara rutin masih dijalankan hingga sekarang. Program beasiswa ini, diikuti oleh Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Muhammadiyah Semarang dengan pola yang berbeda.

Dr. Erwin Santosa merupakan salah satu penggagas perubahan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah Yogyakarta menjadi Universitas Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. Inisiasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidika dan mengembangkan berbagai fakultas dan program studi di luar bidang ilmu kesehatan, namun memiliki keterkaitan dengan bidang kesehatan dan perumahsakitan. Antara lain, program studi Arsitektur, Teknologi Informasi, Akuntansi dan Komunikasi, yang semuanya berwawasan kesehatan. Perubahan dari Stikes Aisyiyah menjadi Unisa, ditetapkan dengan Kemenristek Dikti No 109/KPT/I/2016 tertanggal Kamis 10 Maret 2016, tiga minggu sebelum beliau wafat.