Bintang Islam

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
Error creating thumbnail: Unable to save thumbnail to destination
Majalah Bintang Islam

Bintang Islam adalah majalah dwi mingguan yang terbit setiap tanggal 10 dan 25 setiap bulannya di Yogyakarta. Terbit pertama kali pada Januari 1923. Bintang Islam merupakan metamorfosa dari Tjahja Islam, majalah dwi mingguan dua bahasa (Melayu dan Jawa) yang pernah terbit di Solo. Penerbitan Tjahja Islam di Solo dirintis oleh M. Mochtar Buchari yang dibantu oleh murid-murid Muballighin Muhammadiyah sebelum tahun 1922.

Pada awal Januari 1923, Tjahja Islam berubah menjadi Bintang Islam. Alamat Redaksi dan Tata Usaha dipusatkan di Yogyakarta dengan Abdul Hamid selaku Kepala Pengarang (Pemimpin Redaksi), M Mochtar Buchari dan H Fachrodin duduk sebagai jajaran redaksi. Harsolumekso menangani bagian tata usaha.

Sejak tahun pertama terbit, Bintang Islam menjadi majalah yang bercorak profesional yang memuat pengetahuan agama Islam dan kabar dunia Islam. Tiras majalah Bintang Islam saat itu mencapai 1.500 eksemplar. Jaringan pemasaran mencapai luar negeri. Selain di tanah Jawa, majalah ini tersebar sampai ke negeri Penang, Singapura, Perak dan Johor Malaysia. Pada tahun 1924, Haji Fachrodin menjabat sebagai pemimpin redaksi Bintang Islam, menggantikan Abdul Hamid yang pindah ke Batavia. Haji Fachrodin adalah termasuk salah satu diantara murid-murid langsung K.H. Ahmad Dahlan dan merupakan saudara kandung dari Ki Bagus Hadikusumo. Nama H. Fachrodin telah dikenal malang melintang di berbagai media massa saat itu. Ia pernah menjadi koresponden tetap dari Doenia Bergerak (terbit 1914), yaitu sebuah surat kabar berhaluan kiri. Selain itu, Haji Fachrodin juga pernah menjadi redaktur Medan Muslimin (1915), sebuah surat kabar radikal dibawah pimpinan Haji Misbach, yang dikenal sebagai Haji Merah.

H. Fachrodin juga pernah menjadi hoofdredacteur (pemimpin redaksi), Srie Diponegoro (1918) dan Soewara Moehammadijah. M. Sumodirjo dan Haji Sujak membantu di jajaran redaksi. Pada tahun yang sama, Harsolumekso dan M. Mochtar Buchori meninggal dunia. Pengelola bagian tata usaha diserahkan kepada M. Ng. Parikrangkungan. Sejak tahun 1924, tiras Bintang Islam mencapai 2.000 eksemplar. Pada tahun 1925, Mohammad Hatta yang tengah berada di Amsterdam Negeri Belanda, membantu jajaran redaksi Bintang Islam sebagai koresponden. Memasuki tahun ini, jaringan pemasaran surat kabar ini merambah dunia internasional.

Tulisan H. Fachrodin menyebar di berbagai media saat itu, merentang pembahasannya, mulai dari agama Islam, Kristen, hingga kepeduliannya terhadap nasib rakyat yang begitu menderita. Ia misalnya pernah menulis tentang 'Christen dan Moehammadijah' dan 'Islam Njawa Kemadjoean' (di Soewara Moehammadijah), Verslag saja selama bepergian ke Mekkah (di Soewara Moehammadijah & Islam Bergerak), dan sebuah kritik yang tajam, dan mengantarkannya meringkuk dibalik terali besi pemerintah kolonial Belanda. Penyebabnya, karena kala itu ia menulis tentang nasib rakyat yang menderita karena kebijakan Pemerintahan Kolonial.

Pers Islam pada masa itu memang menjadi pers yang ideologis dan tidak menjaga jarak dengan penderitaan rakyat. Terlebih jika berhubungan dengan kepentingan umat Islam, maka menjadi suara yang lantang. Suara-suara itu semakin lantang, jika Islam dinistakan. Dan salah satu yang dikenal sebagai benteng umat Islam adalah majalah Pembela Islam.

Setelah wafatnya H. Fachruddin, majalah Bintang Islam kemudian menurunkan tulisan untuk mengenang beliau dalam edisi khusus 'Fachruddin Nummer.' Dalam salah satu tulisanya Bintang Islam menulis tentang H Fachruddin dengan mengatakan, "Pandai beliau menoelis dan mengarang pada kemoediannja itoe, ialah dari kawan-kawannja jang selaloe bergaoelan dan bermain-main…, Begitoe joega, kerap sekali beliaoe membawa pertanjakan kepada orang jang lebih pandai, tentang apa sahadja, sehingga dimengertilah matjam-matjam pengetahoean." (Bintang Islam no 14-15 th 1930). Pada tahun 1927, surat kabar Bintang Islam mulai rugi. Tiras majalah ini anjlok dari 2.000 eksemplar menjadi 1.000 eksemplar. Dari 1.000 pelanggan tetap Bintang Islam hanya 800 orang yang masih setia membayar uang langganan. Pada tahun 1928, sebanyak 200 pelanggan yang tidak membayar uang langganan dihentikan tidak mendapat distribusi majalah ini. Sampai memasuki tahun 1929, Bintang Islam masih bertahan dengan 800 pelanggan setia. Memasuk penerbitan tahun ke-8 (1931), majalah ini sudah tidak bisa bertahan lagi dan penerbitan dialihkan menjadi usaha penerbitan buku-buku agama. (Im)