Bid’ah

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

Menurut bahasa artinya, “sesuatu hal yang baru yang diciptakan tanpa ada contoh yang mendahuluinya”. Sementara, pengertian menurut syara’ seperti dijelaskan oleh Al-Syatibhi ialah: “Bid’ah suatu cara/jalan yang ditempuh yang diadakan orang dalam agama yang menyerupai perintah agama, yang dikerjakan dengan maksud berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Swt”. Atau dalam pengertian; “Bid’ah ialah suatu cara/jalan yang ditempuh yang diadakan orang dalam agama yang menyerupai perintah agama, yang dikerjakan dengan maksud yang sama seperti maksud ibadah-ibadah lainnya dalam agama”.

Dari kedua pengertian di atas, bid’ah dalam agama ialah menambah ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan dituntunkan Rasulullah dengan cara baru yang tidak ada asalnya dalam syara’, dengan maksud mendapat pahala lebih banyak atau agar lebih dicintai Allah atau agar lebih rajin beribadah kepada-Nya. Mengingat ibadah tambahan itu tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah, itulah sebabnya maka dinamakan bid’ah.

Para fuqaha mempunyai dua pendapat mengenai bid’ah, yaitu: pertama, golongan yang memandang bid’ah sebagai segala perbuatan yang tercela saja yang menyalahi kitab, atau sunnah atau ijma’. Menurut golongan ini bid’ah ialah “perbuatan yang tercela, yaitu yang diadakan serta menyalahi kitab atau sunnah atau ijma’; inilah yang tidak diizinkan oleh syara’ sama sekali, baik perbuatan ataupiun perkataan, baik secara tegas maupun secara isyarat saja dan tidak masuk ke dalamnya urusan-urusan keduniaan”. Kedua, kalangan fuqaha memandang bid’ah sebagai segala yang terjadi sesudah Nabi. Yaitu, “segala yang diada-adakan sesudah Nabi baik yang diadakan itu kebajikan, maupun kejahatan, baik mengenai ibadat maupun mengenai adat (yakni dengannya dikehendaki maksud duniawi)”. Namun, mereka sepakat dalam mengartikan bid’ah, yaitu segala sesuatu hal yang diada-adakan dalam bentuk yang belum ada contohnya.

Sumber ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Dari kedua sumber itulah kita menerima ajaran agama mengenai ushul atau kepercayaan dan yang mengenai furu’, atau hukum, termasuk juga mengenai akhlak. Dari sumber itu juga kita menerima perintah ibadah, amal shaleh dan jihad. Dalam perintah ibadah disertai cara-cara dan waktunya, dalam perintah amal shaleh disertai petunjuk dan hikmahnya, dalam perintah jihad disertai petunjuk kedaruratannya dan manfaatnya bagi kesejahteraan umat. Juga dalam ajaran kepercayaan disertai petunjuk dan pengawasan terhadap kepercayaan yang mudah menimbulkan kesesatan dan syirik.

Untuk mengetahui apakah suatu ibadah yang dilakukan orang bid’ah atau asli, yaitu dengan melihat ibadah itu dengan tuntunan Allah dan Rasul. Kalau sesuai, tidak kurang dan tidak lebih, maka ibadah itu asli (murni). Kalau tidak sesuai waktunya atau berlainan sama sekali caranya, maka itu adalah bid’ah. Oleh karena itu, agar dapat mengetahui mana yang asli dan mana yang bid’ah, maka harus memperlajari dan menelaah Al-Qur’an dan Hadis yang menjadi sumber ajaran Islam, dan juga kitab-kitab agama yang dalil-dalilnya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis yang shahih. Tanpa mempelajari itu, tidak bisa membedakan mana yang bid’ah dan mana yang asli.

Muhammadiyah menegaskan bahwa bid’ah itu hanya satu, yaitu semua perbuatan mengada-ada dalam agama yang dipandang sebagai ibadah kepada Allah. Karena itu, Lajnah tarjih tidak melihat adanya bid’ah hasanah. Semua bid’ah dinyatakan terlarang karena dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sejumlah hadis, diantaranya hadist riwayat Imam Muslim dan Ibnu Majah dikatakan, “Perkataan terbaik adalah Kitab Allah. Petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad. Masalah terburuk adalah masalah yang dibuat-buat, dan setiap perbuatan yang dibuat-buat (bid’ah) adalah kesesatan, dan setiap kesesatan itu (masuk) di neraka”.

Berdasarkan pengertian dan hadis di atas, Lajnah Tarjih merumuskan: 1) Bid’ah adalah salah satu cara mengamalkan agama yang tidak berdasarkan tuntunan Rasul dan oleh pelakunya dianggap sebagai kegiatan agama, dan dengan demikian ia merupakan lawan dari sunnah. 2) Bid’ah hanya ada sepanjang menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan agama (akidah dan ibadah) dan tidak menyangkut urusan duniawi yang bersifat ma’qulat al-ma’na. 3) Sebagai kebalikan dari sunnah, maka bid’ah harus ditinggalkan dan seperti dinyatakan dalam hadis di atas setiap bid’ah itu adalah sesat.

Beberapa ulama berpendapat bahwa untuk mengantisipasi perkembangan masa depan, maka ada bid’ah hasanah. Yakni penambahan yang membawa kemaslahatan seperti perbaikan dan perluasan Masjidil Haram yang dilakukan terus menerus yang hasilnya masjid tersebut mampu menampung jama’ah haji dan umrah yang setiap tahun meningkat jumlahnya. (Im/Ls)