Amar Ma'ruf Nahi Munkar

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search

Secara etimologi "Amar" berarti perintah, "Ma'ruf" berarti sesuatu yang dianggap baik atau perbuatan yang dianggap baik; "Nahi" berasal dari kata "nahyu" yang artinya larangan "munkar" berarti suatu perbuatan, ucapan, atau sikap yang dianggap buruk atau salah. "Amar Ma'ruf" berarti menyuruh atau mendorong manusia untuk berbuat baik, sementara "nahi munkar", artinya melarang manusia baik individu maupun masyarakatmelakukan perbuatan buruk atau salah.

"Amar ma'ruf" dipahami sebagai satu usaha agar seseorang atau sekelompok orang atau masyarakat melakukan kebaikan sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh agama Islam. "Nahi Munkar" merupakan satu usaha agar seseorang atau sekelompok orang atau masyarakat meninggalkan dan menjauhi semua perbuatan buruk atau salah berdasarkan ajaran Islam, terutama perbuatan buruk atau salah yang dapat merusak agama (akidah, ibadah, dan muamalah), diri manusia (jasmaniah, rohaniah, dan akal), harta benda (mulai dari cara mendapatkannya sampai kepada penggunaannya), keturunan (kejelasan nasab, hak pendidikan dan pewarisannya).

Amar ma'ruf nahi munkar berarti mengajak epada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat Al-Quran antara lain Qs. Ali Imran ayat 104: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah kemunkaran. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung". Qs Ali Imran ayat 110; "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab itu beriman, tentulah lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik". Qs Ali Imran ayat 114; "Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah kemunkaran, dan bersegera (mengerjakan ) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh".

Perintah beramar ma'ruf nahi munkar juga tersebut dalam Qs Lukman ayat 17: "Wahai anakku, laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma'ruf dan cegahlah (mereka) dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting".

Diantara As-Sunnah menyebutkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar adalah manifestasi keimanan: "Barangsiapa di antara kamu sekalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hati, itu selemah-lemahnya iman". (HR Muslim). Begitu juga sebaliknya, apabila masyarakat tidak mau menegakkannya, maka Allah akan menimpakan kezaliman pada masyarakat tersebut sebagai balasan dari keengganannya tersebut: "Sesungguhnya manusia akan menyaksikan perbuatan zalim, ia tidak mau mencegahnya, dikhawatirkan Allah akan menimpakan kezaliman itu pada masyarakat sebagai balasan dari Allah". (HR Daud dan Tirmizi dari Abu Bakar).

Amar ma'ruf nahi munkar bertujuan agar manusia terbebas dari belenggu kezaliman bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat alam sekitarnya. Dengan amar ma'ruf, agama Islam memosisikan dan memfungsikan manusia sebagai uswatun khasanah, sementara nahi munkar mendudukkan manusia pada posisi penjaga keseimbangan dalam kehidupan masyarakat yang cenderung melampaui batas. Perpaduan amar ma'ruf dan nahi munkar akan memfungsikan seorang Muslim pada posisi rahmatan lil 'alamin, yang mengantar para pemeluknya untuk menjadi pribadi yang diridhai Allah; terwujudnya rumah tangga yang sakinah, penuh mawaddah dan rahmah; terwujudnya qaryah thayyibah (masyarakat yang baik); terwujudnya baldatun thayyibatun; dan terwujudnya masyarakat dunia yang damai.

Kondisi objektif masyarakat yang sarat dengan praktik bid'ah, khurafat, syirik, dan tahayul merupakan salah satu latar belakang munculnya gerakan Muhammadiyah di Indonesia yang dipelopori oleh KH Ahmad Dahlan pada awal abad kedua puluh. Oleh karena itu, Muhammadiyah berkembang menjadi satu organisasi yang identik, bahkan menjadi jati dirinya sebagai gerakan dakwah Islam amar ma'ruf nahi munkar dengan tauhid sebagai porosnya. Muhammadiyah memosisikan Nabi Muhammad Saw sebagai suri teladan dalam mengimplementasikan iman ke dalam kerangka jihad yang amar ma'ruf dan nahi munkar ada di dalamnya. Seluruh warga Muhammadiyah dan dengan segenap amal usahanya diarahkan untuk melaksanakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SwT. Untuk itu segalanya didasarkan pada keikhlasan, kesadaran dan tawakkal kepada Allah.

Dengan keikhlasan akan selamat dari godaan, dengan kesadaran akan dapat mengedalikan usaha amar ma'ruf nahi munkar dengan tidak mudah putus asa, dan dengan bertawakkal kepada Allah, Allah pun akan menolong dan memberikan jalan untuk usaha amar ma'ruf nahi munkar.

Sasaran Muhammadiyah dalam amar ma'ruf nahi munkar adalah masyarakat fungsional, masyarakat teknologi dan saintifik, masyarakat perkotaan (maju) dan pedesaan (tradisional), dan masyarakat terbuka melalui jalur ideologi (tata nilai), politik, ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Amar ma'ruf nahi munkar dilaksanakan oleh gerakan Muhammadiyah dengan cara yang arif dan bijaksana (bilhikmati wal mau'izhotil hasanah), lemah lembut tapi lugas dan tegas.(Im/Ls)