Ahmad Dahlan

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
K.H. Ahmad Dahlan

Posturnya kurus dan agak tinggi. Raut muka bulat telur, kulit hitam manis, hidung mancung dengan bibir serasi bentuknya, kumis dan janggut dicukur rapi. Kacamata putih menghiasi, mata menyiratkan tatapan yang tenang dan sorot yang dalam. Pandangan mata lunak dan teduh namun seolah menembus kedalaman hati yang dipandang. Cahaya mata memancarkan kasih sayang dan keikhlasan, sinar mata yang tenang menandakan kedalaman ilmu, tentang hakekat dan tasawuf. Geraknya lambat tetapi yakin dan terarah. Bahwa setiap gerak itu seperti telah dipikir masak-masak.


Salah satu Abdi Dalem penghulu Keraton yang pernah bertugas di masjid ini (Masjid Gedhe) bernama Raden Ngabei Ngabdul Darwis, kelak dikenal sebagai Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Sebagai Khatib Amin, ia memiliki tiga tugas utama. Memberikan khotbah Jumat bergantian dengan delapan khatib yang lain, piket di serambi masjid, dan menjadi anggota Raad Agama Islam Hukum Keraton. (kratonjogja.id)


Kiyai Haji Achmad Dachlan --demikian namanya ditulis dalam ejaan masa itu-- (Ejaan sekarang ditulis K.H. Ahmad Dahlan) adalah orang yang sangat berperan penting dalam berdirinya Muhammadiyah. Seperti pikiran-pikiran yang ditulis untuk mengingatkan dirinya sendiri, maka bagi beliau, mengisi masa hidup di dunia adalah selalu mencari dan mengumpulkan bekal untuk mati. Bekal untuk mati itu telah beliau peroleh, yakni berupa memperbanyak amal ibadah dan amal shalih, dalam rangka menyiarkan ajaran-ajaran agama Allah serta memimpin umat menuju ke jalan kehidupan yang benar berdasarkan ajaran Agama yang benar. Kemunduran keadaan kehidupan umat Islam saat itu sangat merisaukan hatinya. Beliau merasa bertanggungjawab dan berkewajiban untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Beliau sadar, bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilakukannya seorang diri, melainkan harus dengan orang lain dan kerja bersama oleh banyak orang yang diatur dengan seksama. Oleh karena itu dibentuklah organisasi, atau perkumpulan, atau persyarikatan. Dia merasa tergugah oleh panggilan Allah dalam ayat 104 surat Ali Imran. Dia pahami firman Allah itu sebagai perintah untuk menggalang umat atau segolongan orang, agar bekerjasama untuk dakwah, amar ma’ruf, dan nahi munkar. Dengan pemahaman itu, maka beliau dirikan sebuah organisasi atau persyarikatan yang diberi nama “Muhammadiyah”. Angkatan muda yang menjadi murid-muridnya, dari kalangan tetangga sekitarnya, membantu dia dalam merintis dan mengembangkan persyarikatan Muhammadiyah. Mereka, antara lain adalah: Haji Mochtar, Haji Sjudja’, Haji Fachrodin, dan Ki Bagus Hadikusuma. Bagi K.H. Ahmad Dahlan dan pendukungnya, Muhammadiyah merupakan gerakan yang diyakini sebagai penghimpun umat dan wadah perjuangan dan beramal shalih.


Kiyai Haji Ahmad Dahlan, yang bernama asli Muhammad Darwis, Karaton Ngayogyakarta menyebut nama beliau adalah Raden Ngabei Ngabdul Darwis. Beliau dilahirkan di Kauman, Yogyakarta tahun 1285 H bertepatan 1868 M. Ayahnya, Kiai Haji Abubakar bin Kiai Haji Muhammad Sulaiman, memiliki garis keturunan sampai ke Maulana Malik Ibrahim, adalah pejabat kepengulonan --dari kata penghulu, berarti pemangku urusan agama Islam-- Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dengan gelar Penghulu Khatib di Masjid Besar Kasultanan. Sedangkan ibunya, Nyai Abubakar, adalah putri Kiai Haji Ibrahim bin Kiai Haji Hasan, juga seorang pejabat Kapengulon Kasultanan Ngayogyakarta.

Muhammad Darwis memperoleh pendidikan agama pertama kali dari ayahnya sendiri. Pada umur 8 tahun, Darwijs sudah lancar membaca Al-Qur’an dan sudah menghatamkan bacaannya hingga 30 juz. Masa kanak-kanak Darwisy menunjukkan beberapa kelebihan dibanding anak-anak sebaya. Banyak akal dan kreatif mengupayakan berbagai cara untuk mengatasi kendala. Istilah orang setempat:, anak dregil. Darwis anaknya ulet, pandai memanfaatkan sesuatu, wasis alias pandai-cerdik-cerdas. Beliau itu rajin dan selalu fokus, sehingga ngajinya cepat mengalami kemajuan. Dia suka bertanya hal yang belum diketahuinya.

Sebagaimana halnya para pemimpin pada umumnya yang sifat-sifat kepemimpinannya telah muncul sejak dini, sifat kepemimpinannya juga sudah nampak sejak kanak-kanak itu. Teman-temannya suka lulut, menurut, mengikuti, karena sifat kepemimpinannya itu. Darwis adalah anak yang rajin, jujur serta suka menolong, maka banyak temannya. Ketrampilan tangannya juga menunjukkan bakat, Darwisj kecil pandai membuat barang-barang mainan kerajinan. Ia paling suka bermain layang-layang dan gasing.

Menginjak remaja, Darwis mulai serius memperdalam agama, ia belajar ilmu fiqh kepada Kyai Haji Muhammad Saleh dan belajar ilmu nahwu kepada Kyai Haji Muchsin, mereka berdua kebetulan juga adalah kakak iparnya. Guru-gurunya yang lain, dari mulai para kiyai setempat sampai para syaikh di Tanah Suci, antara lain adalah Kyai Haji Abdul Hamid, Lempuyangan dan Kyai Haji Muhammad Nur. Beliau belajar ilmu falak kepada Kyai Raden Haji Dahlan (putera Kyai Pesantren Tremas, Pacitan), belajar ilmu Hadis kepada Kyai Mahfudh dan Syaikh Khayyat, belajar ilmu qiraah Al-Quran kepada Syaikh Amien dan Sayyid Bakri Syatha. Dia juga belajar ilmu bisa, racun binatang, gurunya adalah Syaikh Hasan. Beberapa guru yang lain yakni Raden Ngabehi Sosrosugondo, Raden Wedana Dwijosewoyo dan Syaikh Muhammad Jamil Jambek dari Bukittinggi.

Muhammad Darwis menikah dengan Siti Walidah binti Kyai Penghulu Haji Fadhil pada tahun 1889. Siti Walidah ini terhitung masih saudara sepupu. Perkawinan ini kelak dikaruniai enam orang anak: Djohanah (1890), Siraj Dahlan, Siti Busyro (1903) Siti Aisyah (1905), Irfan Dahlan (1905), dan Siti Zuharoh (1908).

Dalam pada itu, selain menikah dengan Siti Walidah, dia pernah pula beristerikan Nyai Abdullah, janda dari H. Abdullah, mempunyai anak R. Duri. Wanita-wanita lain yang dinikahinya adalah Nyai Rum, yang memberi anak laki-laki dan meninggal waktu masih bayi. Menikah juga dengan Nyai Aisyah dan dikaruniai puteri bernama Dandanah, juga dengan Nyai Solihah. Para istri ini semua janda dan tidak lama berumahtangganya, apatah karena meninggal atau karena bercerai atau alasan lain, tidak ada keterangan. Siti Walidah atau kemudian dikenal sebagai Nyai Dahlan, adalah istri yang mendampingi sampai wafat.

Beberapa bulan setelah menikah dengan Siti Walidah, Darwis berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji sambil berniat memperdalam ilmu agama Islam di sana, sebagaimana layaknya orang pergi haji masa itu. Selama sekitar delapan bulan beliau memperdalam ilmu agama kepada para syekh. Mengingat sebelumnya di tanah air sudah memiliki bekal ilmu yang cukup, maka dia mendapat banyak tambahan pengetahuan agama secara lebih mudah.Sebagaimana umumnya orang berhaji saat itu --bahkan sampai ini-- Darwis mendapat sertifikat untuk berganti nama, dari Sayyid Bakri Syatha seorang syaikh/guru di Mekkah, dia mendapat nama baru Haji Ahmad Dahlan.

Sekembalinya dari haji dan belajar agama kepada para syekh di Makkah itu, Haji Ahmad Dahlan kemudian membantu ayahnya memberi pelajaran agama kepada murid-murid ayahnya di Masjid Besar Kauman. Dia mengajar pada waktu siang bakda Dhuhur dan sesudah Maghrib sampai Isya. Bakda Ashar, dia ikut mengaji kepada ayahnya yang memberi pelajaran kepada orang-orang tua. Jika ayahnya berhalangan, dia diminta menggantikannya, sehingga lama-lama Haji Ahmad Dahlan pun dipanggil Kyai. Semua muridnya, baik yang anak-anak maupun orang tua, memanggilnya Kyai. Sejak saat itu beliau dikenal sebagai Kyai Haji Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1896, ayah Kyai Dahlan, yakni Khatib Amin Kyai Haji Abu Bakar meninggal dunia. Sudah menjadi adat Kraton Ngayogyakarta, apabila seorang abdi dalem meninggal dunia, maka anak lelaki yang sulung diangkat menjadi gantinya menduduki jabatan ayahnya. Maka, Kyai Dahlan menjadi Khatib Amin Kyai Haji Ahmad Dahlan, dalam lidah Jawa disebut Ketib Amin, Tibamin.

Tugas seorang Ketib Amin antara lain adalah: melaksanakan khutbah shalat Jum’at secara bergantian dengan delapan khatib lainnya, melaksanakan piket di serambi Masjid dengan enam orang penghulu lainnya sekali dalam seminggu. Selain itu menjadi anggota Raad (Dewan) Agama Islam Hukum Kraton Kasultanan Ngayogyakarta. Disela-sela menjalankan tugas-tugas itu oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan digunakan untuk menyebarkan ilmunya. Pada waktu piket di serambi Masjid digunakannya juga untuk memberi pelajaran agama kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan ilmu pengetahuan tentang tata bumi yang dipahaminya, Kyai Dachlan memandang perlu untuk mengadakan musyawarah mengenai soal arah kiblat. Sebab, banyak masjid di Yogyakarta yang kiblatnya tidak mengarah tepat ke arah Ka’bah di Mekkah. Pikiran beliau itu kemudian dirundingkan dengan para ulama. Musyawarah dilaksanakan pada tahun 1898.

Pada tahun 1899, Kyai Haji Ahmad Dahlan merasa perlu memperluas dan memperbaiki suraunya (Langgar Kidul) sambil memperbaiki arah kiblatnya ditepatkan ke arah Ka’bah. Namun, beberapa saat sesudah dibangun, datang utusan Kyai Penghulu Muhammad Khalil Kamaludiningrat dengan membawa perintah supaya suraunya dibongkar. Kyai Penghulu tidak mengijinkan berdirinya surau yang arahnya tidak sama dengan Masjid Besar Kauman Yogyakarta. Masjid tersebut menghadap ke arah barat lurus. Peristiwa ini membawa kesan tersendiri bagi Kyai Dahlan, sebagaimana digambarkan secara dramatik di dalam film Sang Pencerah (2010), film yang menceritakan kisah hidup Kyai Dachlan sampai babak sebelum mendirikan persyarikatan Muhammadiyah itu.

Pada tahun 1903, Kyai Haji Ahmad Dahlan pergi haji ke Mekkah untuk kedua kalinya, dengan mengajak putranya Muhammad Siraj yang berumur enam tahun. Menurut sebuah cerita, kepergian haji kedua ini atas perintah dan biaya dari Sultan Yogyakarta, dengan tugas agar KHA Dahlan belajar lagi lebih mendalami agama Islam dan melaksanakan tugas badal haji untuk Sultan. Ketika itu, beliau tinggal selama satu setengah tahun, belajar ilmu-ilmu agama kepada beberapa orang guru. Beliau belajar ilmu fiqh kepada Kyai Makhfud Termas dan Sa’id Babusyel, belajar ilmu Hadis kepada Mufti Syafi’i, belajar ilmu falak kepada Kyai Asy’ari Baceyan, dan berguru kepada Syaikh Ali Mishri Makkah dalam ilmu qiraah. Kyai Dahlan juga menjalin hubungan dan berkawan dengan orang-orang Indonesia di sana, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya dan Kyai Fakih Maskumambang dari Gresik.

Sepulang dari Mekkah yang kedua kalinya itu, Kyai Haji Ahmad Dahlan mulai mendirikan pondok (asrama) untuk murid-murid yang datang dari jauh, yaitu Pekalongan, Batang, Magelang, Solo dan Semarang. Selain dari daerah-daerah itu, murid-muridnya juga datang dari tempat yang lebih dekat seperti Bantul, Srandakan, Brosot dan Kulonprogo.

Sebagaimana umumnya kaum santri Indonesia masa itu, kitab-kitab yang dipelajari Kyai Dahlan adalah kitab-kitab dari Ahlussunnah wal Jamaah dalam ilmu ‘Aqaid, kitab Madzhab Syafi’i dalam ilmu fiqh dan dari Imam Ghazali dalam ilmu tasawuf. Namun, sekembalinya dari Makkah, setelah persinggungannya dengan beberapa tokoh pembaharuan, dia mulai membaca kitab-kitab yang berjiwa pembaharuan itu. Kitab-kitab yang sering dibacanya antara lain adalah: Al-Tauhid, karangan Muhammad ‘Abduh; Tafsir Juz’Amma, karangan Muhammad ‘Abduh; Kanzul-Ulum; Dairah al-Ma’arif, karangan Farid Wajdi; Fi al-Bid’ah, karangan Ibn Taimiyyah; Al-Tawassul w-al-Wasilah, karangan Ibn Taimiyah; Al-Islam wan-Nashraniyyah, karangan Muhammad ‘Abduh; Izhar al-Haqq, karangan Rahmah Allah al-Hindi; Tafshil al-Nasyatain Tahshil al-Sa’adatain; Matan al-Hikam, karangan ‘Atha Allah; dan Al-Qasha’id al-‘Aththasiyyah, karangan ‘Abd al-Aththas.

Kyai Ahmad Dahlan tidak membatasi pergaulannya. Pada tahun 1909, ketika pergerakan kebangkitan nasional tengah berkembang, Kyai Haji Ahmad Dahlan ikut masuk perkumpulan Budi Utomo. Budi Utomo didirikan di Jakarta pada 20 Mei 1908 oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan beberapa siswa sekolah kedokteran (STOVIA). Kyai Haji Ahmad Dahlan bertemu pertama kali dengan Dr. Wahidin melalui perantaraan Mas Joyosumarto, orang dekat Dr. Wahidin Sudirohusodo. Awalnya, Kyai Dachlan tahu tentang perkumpulan Budi Utomo yang bertujuan untuk memajukan bangsa Indonesia, dari ceritanya Mas Joyosumarto tersebut.

Pertemuan pertama Kyai Ahmad Dahlan dengan pengurus Budi Utomo terjadi pada sidang pengurus di rumah Dr. Wahidin Sudirohusodo, di Ketandan Yogyakarta, yang berbuah pada tekad beliau untuk masuk menjadi anggota Budi Utomo. Beliau diterima dan bahkan diminta menjadi pengurus. Di perkumpulan Budi Utomo, Kyai Dahlan memberikan pengetahuan tentang Islam kepada para pengurus Budi Utomo, namun sifatnya sebagai ramah tamah, bukan sebagai pelajaran. Selain itu, Kyai Dachlan diminta mengajar agama Islam kepada para siswa Kweekschool di Jetis, Yogyakarta. Kweekschool adalah sekolah umum, untuk anak-anak kalangan menengah pribumi dan Belanda. Tidak ada kaum santri di situ, tetapi Kyai Dahlan, berkat kepiawaian dan kecerdasannya diterima di kalangan mereka.

Dari pengalaman itu Kyai Dahlan berpikir untuk mendirikan semacam Kweekschool itu, tetapi ia memodifikasi: pelajaran agama dan pelajaran umum. Sekolahnya diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyyah Islamiyah. Waktu itu, anak-anak Kauman masih asing dengan cara belajar model sekolah. Sekolah sederhana itu menempati ruang tamunya, ukuran sekitar enam kali dua setengah meter, berisi tiga meja dan tiga dingklik (kursi panjang) serta satu papan tulis. Muridnya ada sembilan anak. Dalam kurun setengah tahun, muridnya sudah mencapai 20 anak. Pada bulan ketujuh, sekolah itu mendapat bantuan guru umum dari Budi Utomo.

Setelah berbagai pengalaman dan interaksinya dengan berbagai kalangan di luar kaum santri Kauman, akhirnya pada tahun 1912, Ahmad Dahlan mendeklarasikan berdirinya Muhammadiyah. Wadah organisasi itu dimaksudkan untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam yang dicita-citakannya di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut pemahaman yang benar tentang agama Islam. Ia ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadis.

Organisasi Muhammadiyah berdiri pada 18 Nopember 1912 M bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 H di Yogyakarta. Gagasan pendirian Muhammadiyah ini, awalnya mendapat resistensi baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnah, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya sebagai kiai palsu, karena sudah meniru-niru orang Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan, adapula orang yang hendak membunuhnya. Namun, rintangan-rintangan itu dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam bisa mengatasi semua rintangan itu.

Gagasan pembaruan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Kyai Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagangnya di berbagai kota. Gagasan ini kemudian mendapat sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama dari berbagai daerah berdatangan menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Makin lama Muhammadiyah makin berkembang menyebar ke seluruh Indonesia. Karena itu, pada 7 Mei 1921 Kyai Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan Cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 2 September 1921.

Sejak saat itu, Kyai Haji Ahmad Dahlan bersama para murid dan sahabatnya sangat gigih memperjuangkan dan melakukan reformasi agama di lingkungan umat Islam, khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya yang pada waktu itu sedang terbelenggu oleh kejumudan berpikir. Kehidupan umat Islam yang terbungkus dalam sikap taklidisme, feodalisme, konservatisme dan tradisionalisme dipandang menjadi sebab keterbelakangan dan ketertinggalannya dari umat lain. Selain itu, kondisi bangsa Indonesia juga terpuruk akibat belenggu penjajahan Belanda. Ketulusikhlasan yang mendasari gerak perjuangannya itu akhirnya menumbuhkembangkan modernitas bangsa Indonesia sekaligus memunculkan kesadaran baru untuk melaksanakan agama secara murni dan lurus pada masa-masa selanjutnya.

Setelah melalui perjuangan penuh halang rintangan dalam menggerakkan dan memajukan persyarikatan Muhammadiyah, selama kurang lebih 11 tahun memimpin secara langsung sebagai President Muhammadiyah, akhirnya pada tanggal 7 Rajab 1340 H bertepatan 23 Februari 1923 Pembina Muhammadiyah Indonesia --demikian Haji Syoedjak memberi gelaran untuk gurunya itu dalam catatan riwayat hidup gurunya itu-- dipanggil pulang ke Rahmatullah dengan tenang. Menghitung dari tahun kelahirannya, usia beliau saat itu sekitar 55 tahun. Sakit berat ringan menghinggapi beliau disaat-saat sebelum wafatnya. Belum terlalu tua sebenarnya usia tersebut bagi ukuran orang Jawa pada saat itu, tetapi melihat bagaimana kerja keras beliau dalam merintis Muhammadiyah, bisa diduga berpengaruh terhadap kesehatan beliau.

“Ketahuilah, aku harus bekerja keras dalam meletakkan batu pertama daripada amal yang besar ini. Kalau sekiranya aku terlambat atau aku hentikan sementara karena sakitku ini, maka tiada seorang pun akan sanggup membina batu pertama itu. Aku merasa hayatku tidak akan lama lagi. Maka jika aku terus kerjakan amal ini, mudah-mudahan orang di belakangku nanti tidak akan mendapat kesukaran untuk menyempurnakan”, kata KHA. Dahlan suatu ketika dalam masa sakitnya sebelum beliau wafat.

Saat itu, Muhammadiyah telah mendirikan cabang-cabang di seluruh Yogyakarta, menyebar sampai ke Surakarta dan Pekalongan. Di Jawa Timur Muhammadiyah telah berdiri di Banyuwangi dan Surabaya. Berdirinya cabang-cabang itu didahului oleh pengajian-pengajian dan setelah berdiri pengajian itupun berlangsung terus. Selama hidupnya, sebagai --istilah untuk menyebut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah masa itu-- KHA. Dahlan telah menyelenggarakan pertemuan anggota sebanyak dua belas kali, sekali setiap tahunnya. Istilah yang dipakai untuk pertemuan itu dalam bahasa Belanda, yakni Algemeene Vergadering atau Persidangan Umum.

Atas jasa-jasanya, dalam membangkitkan kesadaran akan nasionalisme bangsa ini melalui gerakan pembaharuan Islam dan pendidikan, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai Pahlawan Nasional, dengan Surat Keputusan Presiden RI no. 657 Tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu adalah: Pertama, KH Ahmad Dahlan telah memelopori kebangkitan umat Islam Indonesia untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat. Kedua, dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan pemahaman ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang mengajak kepada kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam. Ketiga, dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam. Keempat, dengan organisasinya Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah memelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk dapat mengenyam pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria. ***(Ls/im/ad)

KHA Dahlah beserta HB Moehammadijah menerima guru Al Hasyimi dan murid-murid sekolah Alatas- salah satunya Yunus Anis
KHA Dahlan dan HB Muhammadiyah tahun 1919-1921