Adang Affandi

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
H. Adang Afandi

Seluruh jejak kehidupan yang dilaluinya, selalu ada dalam lingkaran persyarikatan Muhammadiyah, mulai dari tingkat ranting sampai di level perwakilan pimpinan pusat di Jawa Barat


H. Adang Affandi lahir pada 11 Nopember 1911 dari pasangan H. Affandi dan Hj. Siti Gadimah. Adang Afandi lahir dan dibesarkan di Kadungora, wilayah bagian paling utara Kabupaten Garut yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung dalam keluarga yang taat beragama (Islam). Karena itu, selain mengenyam pendidikan formal Adang Affandi juga rajin thalabul ‘ilmi di pesantren.

Selesai pendidikan, pada tahun 1933 Adang Affandi ditugaskan menjadi guru di Kota Serang, Banten. Setahun bermukim di Serang, pemuda Adang Affandi menikah dengan gadis Sunaryah. Dengan Sunaryah, Adang Affandi dikaruniai dua orang puteri: Tresnaningsih dan Ratnaningsih.

Pada tahun 1935 beliau kembali ke kampung halaman di Kadungora Garut. Selain bekerja sebagai guru, beliau aktif juga membantu perjuangan kemerdekaan. Karena aktivitasnya ini, Adang Affandi pernah harus menghuni sebuah tahanan (penjara) di Bandung.

Kadungora Garut tercatat sebagai wilayah assabiqunal awwalun (golongan pendahulu) yang menerima kehadiran Muhammadiyah, setelah Garut kota terutama daerah Pasar Baru/Lio. Inilah cikal bakal perkembangan Muhammadiyah di Garut. Karena itu, sejak muda Adang Affandi sudah mengenal dan turut aktif dalam kegiatan Muhammadiyah. Dari aktivitasnya ini beliau kenal dekat dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah Garut seperti H.M. Jamhari, Wangsa Eri, H. Gozali Tusi, Muhammad Sardjono, A.S. Bandy dan lain-lain. Memasuki jaman pendudukan Jepang, sebagaimana juga menimpa kepada seluruh organisasi yang ada, Muhammadiyah dibatasi keleluasaan gerak termasuk di Garut dan Kadungora.

Ketika menjadi Ketua Cabang Muhammadiyah Kotapradja Bandung, pada tahun 1953-1956, Adang Affandi juga mendapat amanat untuk menjadi Ketua Majelis Perwakilan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Daerah Priangan, yang meliputi Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis. Pada tahun 1959, berdasarkan Konferensi Majelis Pimpinan Muhammadiyah se-Jawa Barat, H. Adang Affandi selanjutnya menjadi Ketua Majelis Perwakilan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jawa Barat untuk periode tahun 1959-1962. H. Adang Affandi memimpin Muhammadiyah Jawa Barat selama tiga periode (1965-1974) ditambah periodisasi sebelumnya yang masih memakai istilah Majelis Perwakilan Pimpinan Pusat Jawa Barat.

H. Adang Affandi adalah sosok yang tidak bisa dipisahkan dengan perkembangan Muhammadiyah di Jawa Barat dan Bandung khususnya. Seluruh jejak kehidupan yang dilaluinya, selalu ada dalam lingkaran persyarikatan Muhammadiyah, mulai dari tingkat ranting sampai di level pimpinan pusat. Dalam sejarah perumusan “Kepribadian Muhammadiyah”, nama H. Adang Affandi turut mengambil peran dengan tertulisnya nama beliau dalam rumusan tersebut: “Kemudian oleh PP dimusyawarahkan bersama-sama pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur (H.M. Saleh Ibrahim), Jawa Tengah (R. Darsono) dan Jawa Barat (H. Adang Affandi).” Peran H. Adang Affandi dalam pengembangan Muhammadiyah di Jawa Barat tidak bisa dilupakan.

Geliat Muhammadiyah di Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung, ditengarai mulai nampak sejak tahun 1950. Meningkatnya gairah berkiprah dan semaraknya pergerakan Muhammadiyah di Kota Bandung bertambah semarak setelah tokoh-tokoh Muhammadiyah yang aktif di militer menetap di Bandung, seperti M. Yunus Anis, Bakri Syahid dan Hadijoyo yang kemudian didukung oleh tokoh birokrat di lingkungan Departemen Agama seperti Asnawi Hadisiswoyo dan Arhatha dari Cirebon, ikut menggerakkan Muhammadiyah di sana. Pada masa ini perguruan Muhammadiyah seperti PGA, SMEA dan SMA Muhammadiyah khususnya yang sekarang terletak di Jl. Kancil menunjukan perkembangan yang sangat menggembirakan.

Dalam Muktamar ke-35 (setengah abad) di Jakarta, atas nama Muhammadiyah Jawa Barat, H. Adang Affandi melamar agar Kota Bandung dijadikan tuan rumah penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ke-36 tahun 1965. Permintaan ini dikabulkan oleh PP Muhammadiyah. Di bawah kepemimpinan H. Adang Affandi Muktamar Muhammadiyah menjelang runtuhnya Orde Lama yang berlangsung dari tanggal 19 s.d. 24 Juli 1965 tersebut terselenggara dengan sukses.

Salah satu keputusan Muktamar di Bandung itu adalah mengupayakan pendirian Rumah Sakit Muhammadiyah, Sekolah Perawat, dan Sekolah Kebidanan di seluruh propinsi di Indonesia. Di Jawa Barat sendiri, keinginan itu sudah muncul beberapa waktu sebelum Muktamar, hal ini didorong pula oleh harapan Gubernur Jawa Barat, Mayjen Mashudi, agar Muhammadiyah segera memprakarsai pendirian Rumah Sakit Islam di Bandung.

Setelah melakukan pendekatan dengan berbagai pihak, kembali H. Adang Affandi harus pasang badan menjadi pucuk pimpinan dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Melalui perjalanan panjang, akhirnya pada hari Sabtu, 17 Nopember 1968 bertepatan 27 Sya’ban 1338 H., Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Bandung diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Mayjen Mashudi dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, H.M. Yunus Anis. RSI Muhammadiyah Bandung dinyatakan mulai beroperasi pada tanggal 18 Nopember 1968 di bawah tanggung jawab langsung PWM Jawa Barat. Hingga saat ini, RSI Muhammadiyah Bandung masih menjadi salah satu amal usaha yang dibanggakan oleh PWM Jawa Barat, sekalipun dalam perkembangannya tidak lepas dari pasang surut.

Tangan dingin H. Adang Affandi tidak hanya menghasilkan RSI Muhammadiyah Bandung atau terselenggaranya Muktamar yang semarak. Masjid Raya Mujahidin, yang sampai saat ini menjadi markas dan pusat kegiatan Muhammadiyah Jawa Barat beserta seluruh ortom dan unsur pembantu lainnya tidak bisa lepas dari jasa H. Adang Affandi. Pada saat memulai pembangunannya (1955), H. Adang Affandi saat itu masih menjadi Ketua Pimpinan Muhammadiyah Cabang Bandung.

Kerja kerasnya dalam mengelola persyarikatan dan melahirkan berbagai amal usaha Muhammadiyah, nampaknya terekam sekali dalam ingatan puteri sulungnya Hj. Tresnaningsih Akhyar Wahab. Beliau mengatakan: “Bapak H. Adang Affandi itu seumur-umur menjadi pengurus Muhammadiyah sampai akhir hayatnya”.

Sosok sederhana pekerja keras yang telah meninggalkan jejak harum bagi Muhammadiyah Jawa Barat itu wafat pada tanggal 4 Maret 1981 di Bandung, dimakamkan di tempat kelahirannya, Kampung Bojongsalam, Kadungora, Garut. Jauh sebelum menutup usia, sebagaimana dituturkan oleh puterinya, H. Adang Affandi selalu berpesan: “Usaha-usaha Amal Sholeh Muhammadiyah yang telah dibangun dan didirikan (sekolah di Jalan Kancil, Rumah Sakit dan Masjid Mujahidin) jangan dijadikan ladang mencari keuntungan dan sarana kepentingan pribadi. Para pengurusnya harus mengedepankan pelayanan amalan sholeh, bukan dikelola untuk mencari keuntungan (bisnis)”.**