Abu Dardiri

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
Error creating thumbnail: Unable to save thumbnail to destination
K.H. Abu Dardiri

Pada saat diadakan sidang KNI seluruh Jawa, dengan Pemerintah Pusat di Jakarta, 24-28 Nopember 1945, beliau mengusulkan supaya dibentuk Kementerian Agama yang khusus. Usulan itu diterima oleh pemerintah dan diumumkan berdirinya Kementerian Agama pada tanggal 3 Januari, dengan Menteri Agama yang pertama dijabat oleh Dr. H.M. Rasjidi.


K.H. Abu Dardiri, lahir 24 Agustus 1895 di Gombong, Jawa Tengah. Dalam organisasi Muhammadiyah, beliau menjadi Konsul Pimpinan Muhammadiyah Daerah Banyumas, sejak tahun 1925 ketika beliau masih muda, sampai tahun 1963 dimasa usia lanjutnya. Jadi, beliau menjadi Konsul selama 38 tahun. Karena sudah terlalu lama, maka pada kesempatan itu, beliau menyatakan tidak aktif dari jabatannya, berhubung dengan usianya yang telah lanjut. Disamping itu untuk memberi kesempatan menjadi pemimpin kepada yang muda-muda. Sejak itu, K.H. Abu Dardiri, kemudian menjadi penasehat Muhammadiyah Daerah Banyumas.

Pada zaman Jepang, dia menjadi Sjumokatyo (Kepala Jawatan Agama) Karesidenan Banyumas. Dalam jabatannya ketika itu, dia mengusulkan kepada Pemerintah Jepang, agar supaya di Sekolah-sekolah Rakyat disediakan guru-guru agama untuk memberi pelajaran Agama Islam. Usul itu dikabulkan hingga pada akhirnya semua Sekolah Rakyat di daerah Banyumas diberi pelajaran Agama Islam. Setelah itu, kemudian menyusul Sekolah Rakyat di daerah-daerah Karesidenan Kediri dan Pekalongan siswa-siswanya diberi pelajaran Agama Islam.

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dia menjadi anggota KNI Banyumas dan mewakili KNI Banyumas dalam sidang KNI seluruh Jawa. Pada saat diadakan sidang KNI seluruh Jawa, dengan Pemerintah Pusat di Jakarta, 24-28 Nopember 1945, dia mengemukakan supaya urusan agama jangan dimasukkan dalam Kementerian Pengajaran. Dia mengusulkan supaya dibentuk Kementerian Agama yang khusus. Usulan itu diterima oleh pemerintah dan diumumkan berdirinya Kementerian Agama pada tanggal 3 Januari, dengan Menteri Agama yang pertama dijabat oleh Dr. H.M. Rasjidi. Dalam mempersiapkan Kementerian Agama itu, dia juga berusaha mencarikan pegawai tinggi yang ahli untuk membimbing Kementerian Agama yang baru itu, ialah Mr. R.A. Subardjo sebagai Sekjen Kementerian Agama yang pertama.

Pada bulan Nopember 1956, beliau berhenti dari jabatannya sebagai Kepala KUA Banyumas dengan hak pensiun. Pada masa hidupnya, selain aktif dalam pergerakan Muhammadiyah dan kepegawaian, beliau juga seorang pengusaha, sehingga menjadi seorang yang terbilang hartawan. Usaha yang dia jalankan diantaranya mendirikan percetakan di Purwokerto, Jakarta dan Gombong. Sebagai seorang pengusaha dan aktivis agama, kedermawanannya ditunjukkan dengan sumbangannya untuk kepentingan Muhammadiyah dan Islam.

Dengan harta dan kekayaannya, dia membantu pembangunan masjid, musholla, madrasah, rumah yatim dan sebagainya. Bantuan yang diberikan tidak tanggung-tanggung, bahkan ada diantara bangunan itu, semuanya dibiayai olehnya. Misalnya, gedung Balai Aisyiyah dekat Alun-alun kota Purwokerto dan sebuah Musholla di Jalan Stasiun Gombong.

Selain kedua bangunan tersebut, bangunan-bangunan lain yang berdiri atas peranan beliau adalah: Masjid di desa Jompo (Sokaraja-Purbalingga), Asrama Pondok Pesantren Modern Jalan Baturraden Purwokerto, Dua masjid di desa Semondo Gombong, Balai Muslimin Purbalingga, Masjid desa Buajan Kuwarasan dan beberapa masjid di Krawed, Wiro Resap, Wiro Gombong, Lirap Peternaan, Madrasah Tanjungsari, dan sebagainya.

Beliau merasa sangat bersyukur atas rezeki yang berlimpah-limpah dari Allah sang pemberi rezeki. Dalam keyakinan beliau, semakin orang memberikan banyak derma (menggunakan harta kekayaannya untuk amal kebaikan), makan akan semakin banyak atau semakin mudah pula mendapat rezeki penggantinya.

Namun, sebelum menjadi pengusaha yang sukses, K.H.A. Dardiri pernah mengalami masa sulit dalam kehidupan ekonominya. Sekitar tahun 1920, ketika pabrik gula tempat bekerja mengalami bezuiniging (pengurangan karyawan), beliau diberhentikan dari kerjanya sampai-sampai hampir tidak dapat menanak nasi.

K.H. Dardiri wafat pada 1 Agustus 1967 dalam usia mencapai 72 tahun. Beliau meninggalkan 2 orang isteri dan 5 orang anak, yakni: Ibu Hj. St. Zuchrijah (Nyai Dardiri kedua) dengan putrinya Hj. St. Hidajah; Ibu Hj. St. Marjam (Nyai Dardiri ketiga, sudah wafat terlebih dahulu tahun 1965) dengan anaknya: 1. Hindah Triratnastuti, 2. St. Nurullaili, 3. Mh. Fauzi; Ibu Hj. St. Nurur-Rahmah Mankulah binti H. Iksan, Buajan Gombong (Nyai Dardiri keempat) dengan anaknya Mh. Fuad.***

K.H. Abu Dardiri dan Pimpinan Muhammadiyah Daerah Banyumas 1959