Abdul Kahar Muzakkir

From WikiMu
Jump to navigation Jump to search
Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir

Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir adalah anggota Pengurus Besar Muhammadiyah periode 1946-1973. Pendiri dan rektor pertama Universitas Islam Indonesia (UII), sebelumnya Sekolah Tinggi Islam (1945–1960), dan salah satu dari 9 orang penanda tangan “Piagam Jakarta” 22 Juni 1945.

Pak Kahar, demikian panggilan akrabnya, adalah putra asli Kotagede lahir di Yogyakarta tahun 1907, putra H. Mudzakkir seorang pedagang dan tokoh Muhammadi-yah di Kotagede. Kakek buyutnya, Kiai Hasan Busyairi, seorang pemimpin Tarikat Sadariyah dan seorang komandan Laskar Pangeran Diponegoro. Kiai Hasan Busyairi dibuang bersama Pangeran Diponegoro dan wafat di Tondano (Minahasa) yang meninggalkan keluarga Islam di Kampung Jawa Tondano. Kakeknya, Kiai Abdullah Rasyad, adalah guru agama di Masjid Besar Yogyakarta, demikian pula ayahnya Kiai Haji Muzakkir.

Pelajaran agama Islam yang pertama kali beliau peroleh adalah dari ayahnya, dilanjutkan belajar di Mambaul Ulum Solo dan nyantri di Pesantren Jamsaren pimpinan KH Moh. Idrus dan Pesantren Tremas, Pacitan. Tahun 1924, beliau berangkat menunaikan ibadah haji, bermukim dan belajar ilmu agama di sana. Namun, saat itu perang Revolusi Arab tengah berkecamuk, sehingga memaksanya pergi ke Mesir. Pada tahun 1925 ia diterima menjadi Mahasiswa Universitas Al-Azhar di Kairo. Pada tahun 1927 Pak Kahar pindah ke Universitas Darul Ulum Kairo hingga tamat tahun 1936. Beliau menguasai bahasa Arab, bahasa Inggris dan mengerti bahasa Assiria dan Ibrani.

Semasa di Mesir selama 13 tahun, beliau aktif berjuang bagi upaya kemerdekaan Indonesia dan dunia Islam. Beliau tampil gigih dalam perjuangan untuk Palestina yang ketika itu berada dalam penguasaan Inggris. Beliau menjadi salah satu tokoh mahasiswa Indonesia di Mesir yang memimpin “Perhimpunan Indonesia Raya”, setara dengan “Perhimpunan Indonesia” di Belanda, dan menjadi sekjen Al-Jamiah Khairiyah.

Pada tahun 1930, Pak Kahar menghadiri Kongres Islam se-dunia di Baitul Maqdis (Palestina) sebagai wakil umat Islam Indonesia. Sejak itu Pak Kahar banyak dikenal di dunia Arab dan dunia Islam sebagai pemuda pejuang Islam dari Indonesia. Pak Kahar diangkat menjadi sekretaris Kongres, sedang ketuanya adalah Mufti Besar Palestina, Syaikh Amin Al-Hussainy yang terkenal sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan Ketua Muktamar Alam Islamy yang berpusat di Karachi, Pakistan dan Beirut, Libanon.

Di Mesir juga, Pak Kahar sudah mulai menulis di surat kabar, baik yang terbit di negeri-negeri Arab maupun di Indonesia. Tahun 1936, beliau diangkat menjadi anggota redaksi surat kabar “ASHOURA” (pemberontak) oleh seorang pejuang Palestina, Sayid Moh. Ali Thahir, seperti juga dengan Mufti Besar, Amin Al Hussainy sampai di hari tuanya, merupakan sahabat yang sangat akrab dengan Pak Kahar.

Di Kairo, Pak Kahar mendirikan kantor berita bernama “Indonesia Raya” yang memberikan bahan-bahan berita bagi surat kabar di negeri Arab dan bagi Indonesia. Hubungan yang dimulai sejak di Mesir itu, dengan dunia Arab berlanjut terus sampai akhir hayat Pak Kahar. Beliau menjadi anggota Muktamar Alam Islamy dan Ketua Perwakilan di Indonesia. Hampir setiap kali ada pertemuan internasional yang membicarakan masalah Islam di negara-negara Arab, Pak Kahar selalu diundang. Selesai pertemuan itu, Pak Kahar selalu memanfaatkan waktu berkunjung ke negara-negara Arab dan Asia untuk menemui tokoh sahabatnya di masa muda, seperti India, Pakistan, Muangthai, Malaysia, Singapura dan Pilipina. Pak Kahar pernah mengunjungi markas besar pasukan pembebasan Palestina di sekitar Beirut, bertemu dan berbicara dengan Yasser Arafat, sang pemimpin Palestina yang terkenal itu.

Setelah tamat dari Universitas Darul Ulum (1936), Pak Kahar kembali ke Indonesia. Beliau kemudian aktif di Muhammadiyah, dan diangkat menjadi Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah. Selain itu, Pak Kahar juga aktif dalam perjuangan politik, beliau bergabung dengan Partai Islam Indonesia dibawah pimpinan Dr. Sukiman Wiryosanjoyo.

Di masa pendudukan Jepang, Pak Kahar menjadi Wakil Kepala Kantor Urusan Agama (Gunseikanbu Syumubu Zicho) di Jakarta. Saat itulah, Pak Kahar kemudian berhubungan dengan para pemimpin nasional Indonesia, seperti Bung Karno, Bung Hatta dan lain-lain. Pak Kahar juga duduk dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia bersama dengan tokoh-tokoh nasional lainnya. Pak Kahar Muzakkir menjadi salah seorang dari 9 penanda tangan “Piagam Jakarta” (Jakarta Charter), pada tanggal 22 Juni 1945, bersama: Ir. Soekarno, Moh Hatta, K.H. Wahid Hasyim, Abikusno Cokrosuyoso, Mr. A. Subardjo, Mr. Maramis, dan Mr. Mohammad Yamin.

Bersama para tokoh, Pak Kahar membentuk sebuah Panitia Perencana Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta. Para pengurus terdiri dari Wakil Ketua: Mr Suwandi, Sekretaris: Dr. Ahmad Ramali, anggota-anggota: KH Mas Mansur, KHA Wahid Hasyim, KH Farid Ma’ruf, KH Fathurrahman Kafrawi, Kartosudarmo dan Kahar Muzakkir. Sekolah Tinggi Islam itu mulai dibuka pada 8 Juli 1945 bertempat di Gedung Kantor Imigrasi Pusat, Gondangdia, Jakarta. Pak Kahar Muzakkir menjadi Rektor, sedang Bung Hatta sebagai Ketua Dewan Kuratornya.

Setelah proklamasi kemerdekaan, STI pindak ke Yogyakarta berganti nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Fakultas Agamanya diambil alih oleh Departemen Agama, dijadikan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) berkembang menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri). Di UII Pak Kahar Muzakkir pernah menjabat sebagai Rektor Magnifikus, anggota Dewan Kurator, Dekan Fakultas Hukum dan ketua panitia pencari dana perlengkapan UII.

Pada tahun 1958, Pak Kahar memelopori pendirian Akademi Tabligh Muhammadiyah di Yogyakarta dan menjadi Dekannya. Akademi Tabligh ini kemudian menjadi FIAD Muhammadiyah. Beliau merupakan pelopor pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

Pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Pak Kahar menjadi salah seorang pemimpin Angkatan Perang Sabil (APS) di Yogyakarta, dalam bidang pembinaan mental anggota. APS dikenal keberaniannya dalam pertempuran melawan tentara Belanda dan mendapat penghargaan dari Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Di bidang politik, Pak Kahar aktif di Partai Masyumi, menjadi Ketua Umum Masyumi wilayah DIY, anggota Konstituante sebagai anggota fraksi Masyumi, dan anggota KNIP. Selain itu, Pak Kahar menjadi anggota Pengurus Yasma (Yayasan Asrama dan Masjid) yang mengurusi Masjid Syuhada di Yogyakarya, menjadi Ketua Umum Pusat Persaudaraan Jamaah Haji Indonesia dan penasehat PITI DIY. Menjelang wafatnya, beliau menjadi Penasehat Panitia Pembantu Kurban Perang Pembebasan Palestina dan Masjidil Aqsha Yogyakarta.

Pak Kahar mewariskan karya ilmiah yang merupakan diktat kuliah di Fakultas Hukum UII, mengenai hukum-hukum dan kenegaraan Islam. Ada tiga buku beliau merupakan karya terjemahan: 1) Pengantar untuk Mempelajari Syariah Islamiyah (terjemahan Al Madkhal Li Dirasatil Fiqhil Islamy) karya Prof. Dr. Muhammad Yusuf Musa, guru besar Syariah Islamiyah Universitas ‘Ain Syams Kairo; 2) Piagam Persatuan Bangsa-bangsa dalam Islam (Mistaqatul Umam Wasy-syu’ub), karya Dr. Abdul Fatah Hasan, wakil Hakim Tinggi Majelis Daulah Kairo; dan 3) Hubungan-hubungan antara Negara dalam Islam (Al Alaqatud Dauliah Lil Islam), karya Syekh Muhammad Abu Zuhroh, Kairo. Menjelang wafat, beliau dalam proses menerjemahkan buku karya Dr. Abdulkadir Audah.

Prof. K.H. Abdul Kahar Muzakkir wafat pada tanggal 2 Desember 1973 dengan memberikan kenangan bagi UII dan umat Islam Indonesia pada umumnya, serta khususnya bagi Persyarikatan Muhammadiyah. (Ls/Ad).