Perubahan

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
175 bita ditambahkan ,  7 November 2021 01.03
tidak ada ringkasan suntingan
Baris 13: Baris 13:     
Menurut Haary Jundrich Benda dalam bukunya Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang (terj. Oleh Daniel Dhakidae), Prof. Benda mengungkapkan bahwa penerbitan perangko amal bagi kepentingan Muhammadiyah merupakan politik pemerintah kolonial Belanda untuk memperoleh sekutu dari kalangan Islam dalam menghadapi perang melawan Jepang. "Bertambah mantapnya gerakan Islam, dengan bersatunya kelompok modernis dan kelompok tradisionalis dalam wadah MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) pada bulan September 1937. Dibayangi ketakutan perang melawan Jepang, Belanda mulai menyadari kebutuhan memperoleh sekutu di kalangan Islam. Hal ini ditandai dengan membuka Sekolah Penghulu di Jawa Barat, subsidi yang cukup besar bagi jemaah haji, serta perangko amal bagi kepentingan Muhammadiyah”.
 
Menurut Haary Jundrich Benda dalam bukunya Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang (terj. Oleh Daniel Dhakidae), Prof. Benda mengungkapkan bahwa penerbitan perangko amal bagi kepentingan Muhammadiyah merupakan politik pemerintah kolonial Belanda untuk memperoleh sekutu dari kalangan Islam dalam menghadapi perang melawan Jepang. "Bertambah mantapnya gerakan Islam, dengan bersatunya kelompok modernis dan kelompok tradisionalis dalam wadah MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) pada bulan September 1937. Dibayangi ketakutan perang melawan Jepang, Belanda mulai menyadari kebutuhan memperoleh sekutu di kalangan Islam. Hal ini ditandai dengan membuka Sekolah Penghulu di Jawa Barat, subsidi yang cukup besar bagi jemaah haji, serta perangko amal bagi kepentingan Muhammadiyah”.
 +
 +
[[Berkas:Dokumen prangko amal 1.jpg|jmpl|Dokumen penjelasan tentang prangko amal (1)]]
 +
[[Berkas:Dokumen prangko amal 2.jpg|jmpl|Dokumen penjelasan tentang prangko amal (2)]]

Menu navigasi