| Baris 27: |
Baris 27: |
| | Beberapa bulan setelah menikah dengan Siti Walidah, Darwis berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji sambil berniat memperdalam ilmu agama Islam di sana, sebagaimana layaknya orang pergi haji masa itu. Selama sekitar delapan bulan beliau memperdalam ilmu agama kepada para syekh. Mengingat sebelumnya di tanah air sudah memiliki bekal ilmu yang cukup, maka dia mendapat banyak tambahan pengetahuan agama secara lebih mudah.Sebagaimana umumnya orang berhaji saat itu --bahkan sampai ini-- Darwis mendapat sertifikat untuk berganti nama, dari Sayyid Bakri Syatha seorang syaikh/guru di Mekkah, dia mendapat nama baru Haji Ahmad Dahlan. | | Beberapa bulan setelah menikah dengan Siti Walidah, Darwis berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji sambil berniat memperdalam ilmu agama Islam di sana, sebagaimana layaknya orang pergi haji masa itu. Selama sekitar delapan bulan beliau memperdalam ilmu agama kepada para syekh. Mengingat sebelumnya di tanah air sudah memiliki bekal ilmu yang cukup, maka dia mendapat banyak tambahan pengetahuan agama secara lebih mudah.Sebagaimana umumnya orang berhaji saat itu --bahkan sampai ini-- Darwis mendapat sertifikat untuk berganti nama, dari Sayyid Bakri Syatha seorang syaikh/guru di Mekkah, dia mendapat nama baru Haji Ahmad Dahlan. |
| | | | |
| − | Sekembalinya dari haji dan belajar agama kepada para syekh di Makkah itu, Haji Achmad Dachlan kemudian membantu ayahnya memberi pelajaran agama kepada murid-murid ayahnya di Masjid Besar Kauman. Dia mengajar pada waktu siang bakda Dhuhur dan sesudah Maghrib sampai Isya. Bakda Ashar, dia ikut mengaji kepada ayahnya yang memberi pelajaran kepada orang-orang tua. Jika ayahnya berhalangan, dia diminta menggantikannya, sehingga lama-lama Haji Ahmad Dahlan pun dipanggil Kyai. Semua muridnya, baik yang anak-anak maupun orang tua, memanggilnya Kyai. Sejak saat itu beliau dikenal sebagai Kyai Haji Ahmad Dahlan. | + | Sekembalinya dari haji dan belajar agama kepada para syekh di Makkah itu, Haji Ahmad Dahlan kemudian membantu ayahnya memberi pelajaran agama kepada murid-murid ayahnya di Masjid Besar Kauman. Dia mengajar pada waktu siang bakda Dhuhur dan sesudah Maghrib sampai Isya. Bakda Ashar, dia ikut mengaji kepada ayahnya yang memberi pelajaran kepada orang-orang tua. Jika ayahnya berhalangan, dia diminta menggantikannya, sehingga lama-lama Haji Ahmad Dahlan pun dipanggil Kyai. Semua muridnya, baik yang anak-anak maupun orang tua, memanggilnya Kyai. Sejak saat itu beliau dikenal sebagai Kyai Haji Ahmad Dahlan. |
| | | | |
| | Pada tahun 1896, ayah Kyai Dahlan, yakni Khatib Amin Kyai Haji Abu Bakar meninggal dunia. Sudah menjadi adat Kraton Ngayogyakarta, apabila seorang abdi dalem meninggal dunia, maka anak lelaki yang sulung diangkat menjadi gantinya menduduki jabatan ayahnya. Maka, Kyai Dahlan menjadi Khatib Amin Kyai Haji Ahmad Dahlan, dalam lidah Jawa disebut Ketib Amin, Tibamin. | | Pada tahun 1896, ayah Kyai Dahlan, yakni Khatib Amin Kyai Haji Abu Bakar meninggal dunia. Sudah menjadi adat Kraton Ngayogyakarta, apabila seorang abdi dalem meninggal dunia, maka anak lelaki yang sulung diangkat menjadi gantinya menduduki jabatan ayahnya. Maka, Kyai Dahlan menjadi Khatib Amin Kyai Haji Ahmad Dahlan, dalam lidah Jawa disebut Ketib Amin, Tibamin. |
| Baris 37: |
Baris 37: |
| | Pada tahun 1899, Kyai Haji Ahmad Dahlan merasa perlu memperluas dan memperbaiki suraunya (Langgar Kidul) sambil memperbaiki arah kiblatnya ditepatkan ke arah Ka’bah. Namun, beberapa saat sesudah dibangun, datang utusan Kyai Penghulu Muhammad Khalil Kamaludiningrat dengan membawa perintah supaya suraunya dibongkar. Kyai Penghulu tidak mengijinkan berdirinya surau yang arahnya tidak sama dengan Masjid Besar Kauman Yogyakarta. Masjid tersebut menghadap ke arah barat lurus. Peristiwa ini membawa kesan tersendiri bagi Kyai Dahlan, sebagaimana digambarkan secara dramatik di dalam film Sang Pencerah (2010), film yang menceritakan kisah hidup Kyai Dachlan sampai babak sebelum mendirikan persyarikatan Muhammadiyah itu. | | Pada tahun 1899, Kyai Haji Ahmad Dahlan merasa perlu memperluas dan memperbaiki suraunya (Langgar Kidul) sambil memperbaiki arah kiblatnya ditepatkan ke arah Ka’bah. Namun, beberapa saat sesudah dibangun, datang utusan Kyai Penghulu Muhammad Khalil Kamaludiningrat dengan membawa perintah supaya suraunya dibongkar. Kyai Penghulu tidak mengijinkan berdirinya surau yang arahnya tidak sama dengan Masjid Besar Kauman Yogyakarta. Masjid tersebut menghadap ke arah barat lurus. Peristiwa ini membawa kesan tersendiri bagi Kyai Dahlan, sebagaimana digambarkan secara dramatik di dalam film Sang Pencerah (2010), film yang menceritakan kisah hidup Kyai Dachlan sampai babak sebelum mendirikan persyarikatan Muhammadiyah itu. |
| | | | |
| − | Pada tahun 1903, Kyai Haji Ahmad Dahlan pergi haji ke Mekkah untuk kedua kalinya, dengan mengajak putranya Muhammad Siraj yang berumur enam tahun. Menurut sebuah cerita, kepergian haji kedua ini atas perintah dan biaya dari Sultan Yogyakarta, dengan tugas agar KHA Dahlan belajar lagi lebih mendalami agama Islam dan melaksanakan tugas badal haji untuk Sultan. Ketika itu, beliau tinggal selama satu setengah tahun, belajar ilmu-ilmu agama kepada beberapa orang guru. Beliau belajar ilmu fiqh kepada Kyai Makhful Termas dan Sa’id Babusyel, belajar ilmu Hadis kepada Mufti Syafi’i, belajar ilmu falak kepada Kyai Asy’ari Baceyan, dan berguru kepada Syaikh Ali Mishri Makkah dalam ilmu qiraah. Kyai Dahlan juga menjalin hubungan dan berkawan dengan orang-orang Indonesia di sana, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya dan Kyai Fakih Maskumambang dari Gresik. | + | Pada tahun 1903, Kyai Haji Ahmad Dahlan pergi haji ke Mekkah untuk kedua kalinya, dengan mengajak putranya Muhammad Siraj yang berumur enam tahun. Menurut sebuah cerita, kepergian haji kedua ini atas perintah dan biaya dari Sultan Yogyakarta, dengan tugas agar KHA Dahlan belajar lagi lebih mendalami agama Islam dan melaksanakan tugas badal haji untuk Sultan. Ketika itu, beliau tinggal selama satu setengah tahun, belajar ilmu-ilmu agama kepada beberapa orang guru. Beliau belajar ilmu fiqh kepada Kyai Makhfud Termas dan Sa’id Babusyel, belajar ilmu Hadis kepada Mufti Syafi’i, belajar ilmu falak kepada Kyai Asy’ari Baceyan, dan berguru kepada Syaikh Ali Mishri Makkah dalam ilmu qiraah. Kyai Dahlan juga menjalin hubungan dan berkawan dengan orang-orang Indonesia di sana, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya dan Kyai Fakih Maskumambang dari Gresik. |
| | | | |
| | Sepulang dari Mekkah yang kedua kalinya itu, Kyai Haji Ahmad Dahlan mulai mendirikan pondok (asrama) untuk murid-murid yang datang dari jauh, yaitu Pekalongan, Batang, Magelang, Solo dan Semarang. Selain dari daerah-daerah itu, murid-muridnya juga datang dari tempat yang lebih dekat seperti Bantul, Srandakan, Brosot dan Kulonprogo. | | Sepulang dari Mekkah yang kedua kalinya itu, Kyai Haji Ahmad Dahlan mulai mendirikan pondok (asrama) untuk murid-murid yang datang dari jauh, yaitu Pekalongan, Batang, Magelang, Solo dan Semarang. Selain dari daerah-daerah itu, murid-muridnya juga datang dari tempat yang lebih dekat seperti Bantul, Srandakan, Brosot dan Kulonprogo. |