Haedar Nashir: Perbedaan revisi
(←Membuat halaman berisi 'Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. (lahir di Bandung, Jawa Barat, 25 Februari 1958; umur 63 tahun) adalah Ketua Umum Muhammadiyah terpilih periode 2015 - 2020.[1][2]...') |
(Tidak ada perbedaan)
|
Revisi per 18 September 2021 12.09
Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. (lahir di Bandung, Jawa Barat, 25 Februari 1958; umur 63 tahun) adalah Ketua Umum Muhammadiyah terpilih periode 2015 - 2020.[1][2] Di internal Muhammadiyah, dan terutama di kalangan aktivis IMM, nama Haedar Nashir sudah sangat dikenal. Ia pernah menjadi sekretaris ketika Ahmad Syafii Maarif menjabat ketua umum.
RIWAYAT Tumbuh bersama Muhammadiyah. Ia meniti karier dari bawah hingga pucuk pimpinan. Memimpin Muhammadiyah setelah Amien Rais, Syafi'i Maarif, dan Din Syamsuddin. Tentang kemuhamadiyahan dan keilmuan tak perlu diragukan lagi karena ia bukan orang baru. Pria kelahiran Bandung, 28 Februari 1958 ini bergabung dengan Muhammadiyah sejak tahun 1983 dengan nomor anggota 545549. Pada tahun itu, ia dipercaya sebagai Ketua I Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Lalu, pada tahun 1985-1990, kariernya meningkat. Haedar menduduki posisi Deputi Kader PP Pemuda Muhammadiyah hingga menjadi Ketua Badan Pendidikan Kader (BPK) dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah. Selain aktif dalam organisasi Muhammadiyah, pria yang kerap disapa Haedar ini pun bekerja sebagai Dosen Program Doktor Politik Islam pada program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta. Alumnus S3 dari Universitas Gadjah Mada dengan status cum laude ini pun aktif menulis berbagai karya tulis ilmiah baik berupa buku maupun artikel yang dimuat di berbagai media massa. Bahkan, ia pun menjabat sebagai Pemimpin Redaksi majalah Sinar Muhammadiyah. Esai-esainya dapat dinikmati di rubrik “Bingkai” majalah Sinar Muhammadiyah. Selain itu, Haedar juga menulis buku bertajuk “Muhammadiyah sebagai Gerakan Pembaharuan” yang dinilai sangat refrensial. Selain itu, Suami dari Noordjannah Djohantini yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PP 'Aisyiyah 2015-2020 ini juga telah menjadi penulis tetap di rubrik “Refleksi” pada Harian Republika. Ia juga kerap menulis artikel di media lain dan mengisi kata pengantar untuk beberapa buku. Mengenai pendidikan agama, sebetulnya sudah sejak kecil ia mendapatkanya. Haedar pernah bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Ciparay, Bandung. Meski pendidikan selanjutnya ia lalui di sekolah umum seperti SMP Muhammadiyah III dan SMA Negeri 10, Bandung. Namun, ia pernah juga menjadi santri di Pondok Pesantren Cintawana, Tasikmalaya Jawa Barat. Lulus sekolah menengah, ia melanjutkan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” di Yogyakarta dengan memeperoleh lulusan terbaik. Begitu juga dengan program pasca sarjananya. Ia berhasil lulus program S2 dan S3 di Universitas Gadjah Mada dengan status cum laude. Seiring intelektualitas dan keilmuannya yang makin mumpuni, karier Haedar di Muhammadiyah pun makin meroket. Dari organisasi Pemuda Muhammadiyah, ia diberi amanah menjadi Sekretaris PP Muhammadiyah hingga salah satu ketua PP Muhammadiyah. Puncaknya, pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, Jumat pagi, 7 Agustus 2015, Haedar Nashir memperoleh suara terbanyak. Ia berhasil mengumpulkan 1.987 suara, kemudian disusul Yunahar Ilyas sebanyak 1.928, Abdul Mu'ti sebanyak 1.802 suara, Dahlan Rais sebanyak 1.827 suara, dan Busyro Muqoddas sebanyak 1.881 suara. Ia pun resmi menjadi Ketua Umum PP Muhammdiyah 2015-2020.
Pendidikan
- Pondok Pesantren Cintawana,[1] Tasikmalaya, Jawa Barat
- Madrasah Ibtidaiyah Ciparay, Bandung.
- SMP Muhammadiyah III, Bandung.
- SMA Negeri 10, Bandung.
- STPMD APMD Yogyakarta, lulusan terbaik, Yogyakarta.
- Pascasarjana S2-Sosiologi UGM, lulus Cumlaude, UGM.
- Pascasarjana S3 Sosiologi UGM, lulus Cumlaude, UGM.[2]
- Gelar Profesor, Bidang Ilmu Sosiologi, Unit Kerja Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.